Pilpres 2019

Sarankan Mahfud MD Belajar Sejarah Lagi, Fadli Zon: Saya Baru Tahu Isi Kepala Begitu Cetek

Sarankan Mahfud MD Belajar Sejarah Lagi, Fadli Zon: Saya Baru Tahu Isi Kepala Begitu Cetek

Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Youtube
Sarankan Mahfud MD Belajar Sejarah Lagi, Fadli Zon: Saya Baru Tahu Isi Kepala Begitu Cetek 

Pernyataan Mahfud MD soal kemenangan Prabowo - Sandi pada Pilpres 2019 di daerah yang dulunya "Garis Keras" berbuntut panjang.

Setelah menyampaikan penjelasan soal "Garis Keras" yang dimaksudnya, Mahfud MD juga menyampaikan alasannya menyebut daerah-daerah seperti Aceh, Jabar, Sumsel dan Sumbar dulu "Garis Keras".

"Saya katakan DULU-nya karena 2 alasan: 1) DULU DI/TII Kartosuwiryo di Jabar, DULU PRRI di Sumbar, DULU GAM di Aceh, DULU DI/TII Kahar Muzakkar di Sulsel. Lihat di video ada kata "dulu". Puluhan tahun terakhir sudah menyatu. Maka saya usul Pak Jokowi melakukan rekonsiliasi, agar merangkul mereka," tulis Mahfud di akun Twitter. 

Alasan Mahfud MD ini kemudian ditanggapi Wakil Ketua DPR, Fadli Zon.

Fadli Zon mengatakan, Mahfud MD perlu belajar sejarah lagi.

Menurut Fadli, Mahfud MD sedang menoreh luka baru di atas luka lama.

"PRRI adalah koreksi atas pemerintah pusat yamg abai pada daerah dan ketika itu sangat dipengaruhi komunis," tulis Fadli Zon di akun Twitter.


Tak hanya Fadli Zon, Presiden ILC Karni Ilyas juga turut memberikan komentarnya atas postingan Mahfud MD.

Menurut Karni Ilyas, PRRI/Permesta bukan pemberontakan dg ideologi agama.

Pemimpin perlawanan Kol Simbolon (Medan), Letkol A.Husein (Padang), Letkol Ismail Lengah (Riau), Kol Kawilarang dan Lekol V. Samual (Sul-Ut).

"Tidak ada hubungannya dengan daerah Islam garis keras," tulis Karni Ilyas.


Pernyataan Mahfud MD soal wilayah yang dimenangkan Prabowo - Sandi dulunya adalah provinsi garis keras dalam agama, memantik tanggapan berbagai pihak.

Satu di antaranya Said Didu yang langsung meminta penjelasan Mahfud MD mengenai indikator yang digunakan sehingga menuduh orang Sulsel adalah orang-orang garis keras.

Mahfud kemudian menjelaskan makna "Garis Keras" yang disampaikannya saat wawancara dengan satu stasiun TV yang bisa dilihat di sini:

Menurut Mahfud MD, garis keras itu sama dengan fanatik dan sama dengan kesetiaan yang tinggi.

"Itu bukan hal yang dilarang, itu term politik. Sama halnya dengan garis moderat, itu bukan hal yang haram," tulis Mahfud MD di akun Twitter.

Mahfud MD mengatakan, dua-duanya boleh dan kita bisa memilih yang mana pun.

"Sama dengan bilang Jokowi menang di daerah PDIP, Prabowo di daerah hijau," tulisnya.

Mahfud MD melanjutkan, dalam term itu dirinya juga berasal dari daerah garis keras, Madura.

Madura itu sama dengan Aceh dan Bugis, disebut fanatik karena tingginya kesetiaan kepada Islam sehingga sulit ditaklukkan.

"Seperti halnya konservatif, progresif, garis moderat, garis keras adalah istilah-istilah yang biasa dipakai dalam ilmu politik," jelas Mahfud.

Mahfud MD juga menyampaikan alasannya menyebut daerah-daerah itu provinsi garis keras seperti ditulis dalam unggahan berikut:


Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved