Film Kucumbu Tubuh Indahku Diboikot di Negara Sendiri, Raih Penghargaan di Banyak Negara

Film Terbaru Garin Nugroho Kucumbu Tubuh Indahku Diboikot di Negara Sendiri, Raih Penghargaan di Banyak Negara...

Film Kucumbu Tubuh Indahku Diboikot di Negara Sendiri, Raih Penghargaan di Banyak Negara
KOLASE TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Film Kucumbu Tubuh Indahku Diboikot di Negara Sendiri, Raih Penghargaan di Banyak Negara 

Film Kucumbu Tubuh Indahku Diboikot di Negara Sendiri, Raih Penghargaan di Banyak Negara 

Kucumbu Tubuh Indahku, film terbaru Garin Nugroho menuai kontroversi.

Film itu dikecam banyak pihak dari netizen hingga pejabat pemerintah karena menampilkan tema LGBT.

Trailer Kucumbu Tubuh Indahku di YouTube saja sudah dipenuhi hujatan.

Bahkan kini ada petisi yang menolak film itu. 

Indonesia Sudah Mulai Memproduksi Film LGBT dengan Judul 'Kucumbu Tubuh Indahku,'" demikian judul petisi di Change.org.

Dilansir dari CNN Indonesia, Petisi itu ditujukan kepada Komisi Penyiaran Indonesia dan sudah ditandatangani lebih dari 53 ribu orang.

Isinya tidak macam-macam, hanya imbauan untuk memboikot film itu.

'Kucumbu Tubuh Indahku' Digoyang Kontroversi LGBT
'Kucumbu Tubuh Indahku' bercerita tentang kehidupan penari Lengger. (Fourcolours Films)

Garin membuat Kucumbu Tubuh Indahku berdasarkan cerita hidup seorang penari Lengger, Rianto.

"Tubuh kita ini menyimpan ingatan. Rangkaian ingatan tersebut menjadi sebuah sejarah manusia, sejarah tubuh dan trauma-traumanya tersendiri yang bukan hanya personal, tapi juga merupakan representasi sosial dan politik yang dialami seorang individu. Seorang penari Lengger yang harus menampilkan sisi maskulin dan feminin dalam satu tubuh adalah sebuah pergolakan ingatan tubuh yang sangat menantang," kata Garin dalam keterangan pers.

"Ini yang saya tangkap dari cerita hidup Rianto. Dan ini yang ingin saya coba visualisasikan ke dalam film," sutradara Daun di Atas Bantal itu melanjutkan. 

'Kucumbu Tubuh Indahku' berpusat pada perjalanan Juno, penari Lengger, sejak kecil hingga dewasa.
'Kucumbu Tubuh Indahku' berpusat pada perjalanan Juno, penari Lengger, sejak kecil hingga dewasa. (Fourcolours Films)
Produser Ifa Isfansyah menganggap Kucumbu Tubuh Indahku akan indah secara visual.
"Pertama kali mendengar ide ini, saya langsung sangat tertarik karena ceritanya yang sangat menggelitik. Cerita tentang perjalanan tubuh kita," ujarnya, juga dalam keterangan pers.

Film yang tayang di Indonesia sejak 18 April lalu itu sudah mendapat beberapa penghargaan internasional, termasuk dari Italia, Prancis, Australia, dan Meksiko.

Kucumbu Tubuh Indahku juga sudah diputar di lebih dari 30 festival film di seluruh dunia.

Karena itu ada pula warganet yang membela Kucumbu Tubuh Indahku.

Hingga kini Kucumbu Tubuh Indahku tinggal tersisa di setidaknya dua bioskop di Jakarta, apalagi setelah adanya serbuan Avengers: Endgame.

Film Kucumbu Tubuh Indahku Sebenarnya Sudah Banyak Sensor

Kucumbu Tubuh Indahku sebenarnya bisa saja hanya mengisahkan perjalanan batin berliku seorang penari Lengger Lanang, namun Garin Nugroho mencoba memotret hal yang lebih luas dari sekadar kisah seorang penari, yaitu penghakiman sepihak.

Kisah Kucumbu Tubuh Indahku mencerminkan sikap sebagian masyarakat Indonesia yang konon beragam namun faktanya sulit menerima perbedaan.

Hal ini kemudian menekan sebagian pihak lainnya hingga menghadapi berbagai kesulitan menjalani hidup.

Dalam film ini, kesulitan yang dialami Arjuno (Muhammad Khan) berkaitan dengan identitas ekspresi gender sejak kecil yang sudah membuat dia sulit untuk berkomunikasi. 

Ditambah dengan penghakiman dari lingkungan tanpa sifat rasa kemanusiaan atau empati, tak heran bila begitu banyak beban hidup yang Juno rasakan di usianya yang belum matang.

Arjuno sejak kecil mengalami konflik batin terkait identitas gender yang ia alami. 
Arjuno sejak kecil mengalami konflik batin terkait identitas gender yang ia alami. (Fourcolours Films)

Di sisi lain, pelampiasan hasrat diri dari sosok Arjuno pada tarian Lengger Lanang ternyata juga tak menolong untuk membuat masyarakat mengerti. 

Juno masih saja mengalami kesulitan mengejar renjananya itu.

Dalam hal ini mimpi film Hollywood ala 'La La Land' tak berlaku di Indonesia, atau memang film Barat kelewat utopis. 

Padahal, tarian Lengger Lanang sebenarnya awam dibawakan oleh laki-laki di kawasan Banyumas, Jawa Tengah.

Tarian itu diketahui sudah ada sejak Abad ke-18 dan tercatat dalam Serat Centhini.

Namun masyarakat -yang dalam film disebut berlatar di era reformasi- menolaknya.

Selain itu, Garin Nugroho mencoba menampilkan bahwa kelompok marjinal yang diwakili oleh Arjuno dan teman-teman lenggernya menjadi korban dari kepentingan politik segelintir orang. 

Fenomena tersebut juga sebenarnya terjadi di dunia nyata.

Seringkali, demi politik, kelompok minoritas dijadikan tumbal alih-alih mendapat perlindungan atau hak yang sama dengan kelompok mayoritas.

Bukan hanya itu, catatan penting dari film ini adalah kebudayaan asli Indonesia kerap menjadi korban politik, seperti dicap sebagai wadah komunisme, klenik, atau menentang agama. 

'Kucumbu Tubuh Indahku
'Kucumbu Tubuh Indahku' menampilkan tarian tradisional Indonesia. (dok. Fourcolours Films)

Padahal, kebudayaan itu sendiri lahir dari masyarakat yang kemudian coba dikebiri demi budaya juga ego segolongan pihak.

Berbagai potret sosial tersebut coba dibawakan Garin Nugroho sesuai dengan gayanya yang artistik dan 'festival'.

Meski, harus saya akui, 'Kucumbu Tubuh Indahku' terasa lebih pop dibandingkan karya Garin sebelumnya sekaligus yang akhirnya bisa saya agak mengerti.

Meskipun begitu, film dengan karakter lintas gender apalagi menyinggung soal orientasi seksual yang berbeda dibandingkan pemahaman umum masyarakat memang tidak mudah untuk dibuat. Bahkan untuk seorang Garin Nugroho.

Dalam konteks film, Garin menampilkan fenomena sosial dalam film ini sebenarnya sah-sah saja karena menayangkan potret faktual.

Namun karena bersinggungan dengan hal yang sensitif bagi pemahaman masyarakat saat ini, konten tersebut mesti disampaikan dengan hati-hati agar tak menimbulkan stigma.

Langkah hati-hati tersebut sebenarnya tampak sudah dipikirkan Garin pada aspek penyampaian konflik identitas gender yang dialami Juno. 

Garin -dengan latar budayanya yang kental akan Jawa- menunjukkan ekspresi gender Juno melalui perawakan dan tampilan karakter tersebut yang kental dengan nuansa feminin seperti lemah lembut, tak banyak bicara, tatapan sayu, hingga lekuk dan isyarat gerak tubuh. 

Namun tampilan tersebut yang kemudian ditempelkan pada pekerjaan Juno sebagai seorang penari, sebenarnya rawan memberikan stigma. 

Dalam bahasa awam, masyarakat bisa memberikan cap "lelaki penari gemulai memiliki orientasi seksual yang berseberangan dengan pemahaman umum".

Hal ini yang perlu diperhatikan dalam membuat film dengan karakter utama lintas gender, apalagi orientasi seksual, oleh banyak pihak, bukan hanya sineas dan media.

Selain itu, tampaknya film yang telah rilis pada 18 April lalu ini telah mengalami banyak sensor atau memang ada bagian cerita yang sengaja dibuang.

Hal ini terlihat dari sejumlah bagian film yang terasa jumping sehingga meninggalkan kehampaan logis bagi penonton, meskipun masih bisa dinikmati hingga akhir.

Meski begitu, ia mengatakan harus menyebut bahwa Kucumbu Tubuh Indahku memiliki banyak makna dan pesan kemanusiaan alih-alih hanya sekadar film LGBT seperti dituduhkan petisi ber-75 ribu tanda tangan yang viral akhir-akhir ini. 

Film ini harus dilihat dengan pikiran terbuka dan memandang bahwa dunia itu bukan sekadar hitam-putih.

Dan itu menjadi tantangan bagi Garin Nugroho untuk menampilkan film berisi kisah nyata bagi masyarakat yang kini pikirannya mulai menyempit dan gemar menghakimi melalui dunia maya.

Sinopsis Film Kontroversial 'Kucumbu Tubuh Indahku' 

Film Kucumbu Tubuh Indahku menceritakan perjalanan hidup Juno, sejak kecil hingga dewasa menjadi penari, di sebuah desa di Jawa, yang terkenal sebagai desa penari lengger lanang, jenis tarian perempuan yang dibawakan penari laki - laki.

Kehidupan Juno kecil adalah kehidupan peleburan tubuh maskulin dan feminin yang terbentuk alami oleh kehidupan desa dan keluarganya, namun perjalanan hidupnya selanjutnya adalah perjalanan kehidupan penuh trauma kekerasan tubuh.

Trauma kekerasan politk yang dialami Ayahnya menjadikan Juno hidup sendiri .

Kehidupan masa kecil Juno serba sendiri di desa miskin menjadikan dirinya menjadi ibu dan bapak bagi kehidupannya.

Juno dalam kesendirian melihat banyak kekerasan yang muncul di sekitarnya.

Tanggal rilis: 18 April 2019 (Indonesia)

Sutradara: Garin Nugroho

Skenario: Garin Nugroho

Nominasi: Orizzonti Award for Best Actor, LAINNYA

Produser: Ifa Isfansyah, Matthew Jordan

Produser eksekutif: Michy Gustavia, Eddie Cahyono, Christopher Lee Smith, Panji Prasetyo.

Pemeran: Randi Pangalila, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Muhammad Khan, Endah Laras, Whani Darmawan, Rianto, Raditya Evandra, Winddarti, Anneke. 

Penulis: Mirna Tribun
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved