Me Campus

Eksistensi Puisi Hingga Kenangan Sosok Penyair Terkenal Indonesia

Chairil Anwar merupakan seorang penyair kebanggaan Indonesia. Pada 1942, namanya mulai melejit saat tulisan pertamanya dipublikasikan Majalah Nisan

Eksistensi Puisi Hingga Kenangan Sosok Penyair Terkenal Indonesia
NET
Ilustrasi 

Eksistensi Puisi Hingga Kenangan Sosok Penyair Terkenal Indonesia

PONTIANAK -  Mengenal jasa para pahlawan bisa melalui sebuah karya yang dikenang hingga sampai saat ini. Setiap tahun, 28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Penetapan hari puisi ini erat kaitannya dengan penyair Tanah Air, Chairil Anwar.

Chairil Anwar merupakan seorang penyair kebanggaan Indonesia. Dia lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes dan Saleha. Di usianya yang masih 15 tahun, Chairil Anwar sudah bertekad untuk menjadi seorang penyair.

Pada 1942, namanya mulai melejit saat tulisan pertamanya dipublikasikan Majalah Nisan. Sepanjang hayatnya, dia telah menghasilkan 94 karya, termasuk 70 puisi. Namun di usianya yang masih muda, Chairil Anwar harus tutup usia.

Baca: 5 Inspirasi Mix and Match ala Hijab Influencer untuk ke Kampus, Simpel nan Stylish

Baca: Cerita Fimelia Suci Rahmadani, Aktivis Kampus yang Menyeimbangkan Kuliah Dan Organisasi

Di era modern, sajak Chairil Anwar semakin dikenal saat dimuat dalam buku Aku karya Sjuman Djaya. Buku ini menjadi referensi pelengkap dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Sejak dirilisnya film garapan Mira Lesmana dan Riri Riza karya sastra menjadi terangkat kembali di Indonesia. Pemeran utama dikisahkan bernama Rangga merupakan pecinta sastra.

Penetapan tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional dianggap tidak mendasar. Sebenarnya Indonesia telah memiliki Hari Puisi Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 26 Juli. Tanggal yang sama dengan hari kelahiran pelopor Angkatan 45.

Tanggal 22 November 2012, sekitar 40 penyair Indonesia telah menetapkan tanggal kelahiran Chairil Anwar sebagai Hari Puisi Indonesia. Penetapan ini dilakukan di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau.

Dipilihnya tanggal 26 Juli, tanggal kelahiran Chairil Anwar, sebagai Hari Puisi Indonesia tidak hanya karena kepopulerannya dalam bahasa dan sastra Indonesia. Pemilihan Chairil juga karena totalitasnya dalam menggeluti dan menghidupkan puisi.

Baca: Rumah Pintar Rasau Jaya Gelar Pelatihan Membaca dan Menulis Puisi

Tapi yang perlu kalian ketahui, hari puisi nasional tidak hanya untuk mengenang wafatnya sang penyair. Akan tetapi eksistensi yang hingga kini masih banyak para penggemar yang aktif dalam menulis sebuah puisi.

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi. (*)

Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved