Pemilu 2019

JaDI Harap KPU Fokus Pada Pelaksanaan dan Tahapan Daripada Usul Tak Lagi Pemilu Serentak

Semua opsi tersebut sah-sah saja tinggal dikaji mana yang paling cocok untuk diterapkan di Indonesia.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIDHO PANJI PRADANA
Umi Rifdiawaty. 

JaDI Harap KPU Fokus Pada Pelaksanaan dan Tahapan Daripada Usul Tak Lagi Pemilu Serentak

PONTIANAK - Ketua Presedium JaDI Kalbar, Umi Rifdiawaty menilai mestinya KPU fokus pada penyelesaian tahapan yang berlangsung baru membahas evaluasi. Karena pada siklus pemilu itu, iata dia, ada tiga yaitu Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.

Berikut analisanya.

Ada baiknya KPU fokus dulu sama tahapan yang sedang berlangsung saat ini, rekap perolehan suara di PPK hingga penetapan hasil kelak. 

Karena siklus pemilu itu memang ada tahap evaluasi yang dilakukan setelah tahapan perencanaan dan pelaksanaan dilakukan, barulah menyampaikan evaluasi termasuk saran, ide atau gagasan kedepan pemilu akan seperti apa. 

Baca: Komisioner Bawaslu Lakukan Pengawasan PSL Empat TPS di Sintang

Baca: Ketua KPU Pontianak Pastikan Kesiapan Coblos Ulang di TPS 07 Pontianak Selatan

Semua opsi tersebut sah-sah saja tinggal dikaji mana yang paling cocok untuk diterapkan di Indonesia. 

Pemilu dinegara kita memang pesta demokrasi besar yang melibatkan jumlah pemilih, peserta dan penyelenggara yang sangat banyak. Kalau soal membebani itu relatif lah ya. 

Dari pemilu tahun 2004 kan sudah menggunakan sistem yang sama yaitu sistem proporsional hanya saja tahun 2004 proporsional terbuka terbatas, sejak pemilu 2009 kita sudah menerapkan sistem proporsional dengan daftar terbuka dan sama dengan pemilu 2019 hanya saja pemilu 2019 ini di serentakkan dengan Pemilu Presiden dan wakil presiden. 

Ada faktor lain yang sangat mempengaruhi dalam penyelenggaraan pemilu tahun 2019 ini yaitu media sosial yang menyampaikan informasi yang sangat massif tentang isu isu pelaksanaan pemilu. 

Saya melihatnya Informasi di media sosial sangat mempengaruhi penyelenggaraan pemilu kali ini bahkan juga mempengaruhi suasana kebatinan penyelenggara pemilu, ini seperti yang terjadi pada salah seorang anggota KPPS yang meninggal karena kepikiran untuk menyelesaikan tugasnya dengan sebaik mungkin dan merasa sedih dengan pemberitaan yang menyebutkan adanya dugaan kecurangan. 

Belum lagi tuduhan kecurangan karena kesalahan input data situng, di saat seperti ini KPU harus mampu meyakinkan jajaran dibawahnya untuk menjawab dengan kerja kerja yang baik harus ada motivasi untuk membangkitkan kembali semangat penyelenggara ditingkat bawah agar tidak down. 

Baca: FRKP West Borneo Vespa Lovers Sukses Gelar Touring Paskah, Pontianak-Badau

Baca: Jumiadi: 18 Desa Sudah Selesai di Rekapitulasi

Karena pemilu serentak dengan lima jenis surat suara ini adalah amanah konstitusi, apa yang dikerjakan oleh penyelenggara pemilu saat ini adalah pekerjaan mulia dalam menegakkan konstitusi, jadi harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan jangan pernah merasa atau menjadikan tugas mulia ini sebagai beban. 

Sebenarnya pemilu sebelumnya juga ada penyelenggara yang menjadi korban baik meninggal dunia ataupun luka pada saat menjalankan tugasnya, karena menghitung surat suara dengan sistem yang ada sekarang menimbulkan konsekuensi proses penghitungan suara yang memerlukan waktu yang sangat panjang demikian juga proses rekapitulasi di PPK belum lagi menghadapi dinamika saat rapat pleno sehingga sangat manusiawi jika penyelenggara baik KPPS ataupun PPK mengalami kelelahan.

Nah di saat seperti ini KPU Kabupaten/Kota dan Provinsi harus hadir memberikan dukungan moral kepada penyelenggara ditingkat bawah terutama PPK yang saat ini sedang melakukan rekap.

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved