Viryan Aziz: Keliru Entry Bukan Bentuk Kecurangan

Komisioner KPU RI, Viryan Aziz menegaskan jika pihaknya tidak melakukan kecurangan dalam proses entry karena sistem dalam situng

Viryan Aziz: Keliru Entry Bukan Bentuk Kecurangan
TRIBUPONTIANAK.CO.ID/RIDHO PANJI PRADANA
Komisioner KPU RI, Viryan Aziz 

Viryan Aziz: Keliru Entry Bukan Bentuk Kecurangan

PONTIANAK - Komisioner KPU RI, Viryan Aziz menegaskan jika pihaknya tidak melakukan kecurangan dalam proses entry karena sistem dalam situng adalah transparansi.

"KPU tentu tidak menginginkan itu, kita mempersiapkan jajaran tim operator seluruh Indonesia di 514 Kabupaten Kota jumlahnya belasan sampai dengan maksimal 25 orang, dari unsur masyarakat, jadi sebenarnya itu melibatkan masyarakat juga, bukan hanya KPU. Tapi dari unsur KPU, ada KPU Kabupaten Kota serta ditambah masyarakat dan itu terbuka untuk rekrutmennya," kata Viryan, Senin (22/04/2019) kepada Tribun.

Para operator tersebut, kata dia sudah disiapkan, serta dibimtek, dan dilakukan tiga kali simulasi penggunaan sistem informasi penghitungan suara atau Situng.

"Namun demikian, dimungkinkan kekeliruan itu terjadi dan memang terjadi terakhir di 56 TPS, nanti kita terus update apabila masih ada yang keliru entry. Point pentingnnya, keliru entry bukan bentuk kecurangan, ini bisa dikonfirmasi begini, situng dibuat dengan dua bentuk, ada kegiatan scan dan kegiatan entry," tuturnya.

Baca: Kecamatan Pontianak Utara Miliki Banyak Keistimewaan Yang Tak Banyak Diketahui

Baca: Berduka, Puluhan Penyelenggara Pemilu Meninggal Dunia, PMII Kalbar Apresiasi Kinerja KPU

Baca: Update Cuaca Terkini di Kabupaten Kapuas Hulu

Kegiatan scan, diterangkannya form C1 apa adanya, KPU RI melarang jajarannya selain KPPS yang melakukan perubahan terhadap formulir model C1 karena harus di scan apa adanya.

Yang kedua, lanjutnya, angka-angka di form C1 dientry jumlahnya untuk memudahkan pemberian informasi kepada pemilih, kepada masyarakat terkait dengan infografis perolehan suara.

"Kalau ada dugaan kecurangan, justru sebaliknya, desain situng sejak awal menggunakan prinsip transparansi dan terbuka," bebernya.

Transparansi, diungkapkan Viryan adalah dengan menscan apa adanya form C1. Ketika terjadi selisih dengan situng entry, maknanya memang keliru, karena discannya tidak dirubah, artinya, kata dia, publik pun bisa tau.

"Kalau operator mau melakukan manipulasi tentunya juga merubah scan C1. Tentu hasilnya sama, namun misalnya yang dilakukan manipulasi, namun sebagian besar yang ditemukan sampai sekarang di scan C1nya beda, dientry beda. Ini berarti kekeliruan karena kedua dokumen tersebut dienty dan input jajaran kami di KPU Kabupaten Kota," terangnya.

Mantan Komisioner KPU Kalbar ini pun menegaskan jika penghitungan secara elektronik tersebut hanya alat bantu yang bersifat sementara.

"Jadi itu bukan hasil final, berapapun hasilnya itu hanya alat bantu sementara, hasil final nanti berdasarkan rekapitulasi penghitungan suara berjenjang yang sekarang sedang berlangsung ditingkat kecamatan," imbuhnya

Lebih lanjut, Viryan pun menargetkan agar kemudian scan dan entry diselesaikan pihaknya dengan segera dari yang ditarget 7 hari.

"Yang scan targetnya 7 hari, tapi kita berupaya dengan target itu dan dikerjakan teman-teman kami. Mengapa agak lambat karena sebelumnya Situng menscan dan mengentry lima kelompok pemilihan, jadi semua discan dan dientry, namun sekarang kita hanya fokus di Pilpres dan hasilnya pergerakan cukup baik lebih cepat dari sebelumnya, dan mudah-mudahan bisa rampung paling tidak hasilnya signifikan dalam 7 hari kedepan," pungkasnya .

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved