Pilpres 2019

UPDATE Real Count KPU Pilpres 2019 Senin (22/4) Suara Masuk 25 Juta, Luhut Pun Telepon Prabowo

Hasil Situng sementara ini menunjukkan, pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul dengan 54,94 persen atau 13.819.796.

Penulis: Marlen Sitinjak | Editor: Marlen Sitinjak
pemilu2019.kpu.go.id
UPDATE Real Count KPU Pilpres 2019 Senin (22/4) Suara Masuk 25 Juta, Versi Quick Count Prabowo Kalah. 

Data Sementara Prabowo Subianto unggul di Pulau Sumatera, Jokowi unggul di Jawa dan Papua

PILPRES - Hingga, Senin (22/4/2019) petang WIB, data pemilu presiden yang sudah masuk di Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencapai 16,3 persen.

Dari data yang masuk, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf masih unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Data penghitungan suara Pilpres yang dimuat dalam di Situng terus bergerak.

Data tersebut ditampilkan pada portal pemilu2019.kpu.go.id.

Hingga Senin (22/4/2019) pukul 16.30 WIB, data yang masuk mencapai 132.628 TPS dari total 813.350 TPS atau 16,30639 persen.

Total suara yang sudah masuk adalah 25.152.763 suara.

Baca: ILC TVOne Edisi 23 April 2019 Tidak Tayang! Bagaimana Nasibnya? Ini Kata Karni Ilyas & Pencinta ILC

Baca: 7 Artis Caleg Yang Gagal Jadi Anggota Dewan di Senayan, Vicky Prasetyo Tak Capai 1 Persen Suaranya

Hasil Situng sementara ini menunjukkan, pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul dengan 54,94 persen atau 13.819.796 suara.

Sedangkan paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapatkan 45,06 persen atau 11.332.967 suara.

Selisih suara kedua pasangan calon ini pun adalah 2.486.829 suara atau 9,88 persen.

Berikut data sementara di Situng Komisi Pemilihan Umum:

Berikut hasil Hitung Cepat: 

Luhut: Saya Sudah Telepon Prabowo, Ketawa-ketawa...

Luhut Binsar Pandjaitan mengaku diutus calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo untuk menemui calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Luhut mengaku, awalnya akan bertemu Prabowo pada, Minggu (21/4/2019) kemarin.

Namun, pertemuan itu urung dilakukan karena alasan kesehatan.

"Saya sudah telepon-teleponan dengan Pak Prabowo ya, sudah bicara baik-baik, bicara ketawa-ketawa ya. Kami janjian mau ketemu Minggu kemarin. Tapi kemudian ada masalah teknis, beliau agak sakit flu. Jadi akan di-reschedule," ujar Luhut dikutip dari Kompas.com, Senin (22/4/2019).

Luhut belum mengetahui pasti kapan pertemuannya dengan Prabowo dilaksanakan.

Namun, ia dan Prabowo sudah bersama-sama berkomitmen untuk melangsungkan pertemuan empat mata.

Jokowi sebelumnya mengaku sudah mengutus seseorang untuk bertemu Prabowo. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut soal siapa yang diutus tersebut.

Namun, sang utusan akan menyampaikan beberapa pesan kepada Prabowo.

Selain itu, sang utusan sekaligus merancang pertemuan antara Jokowi dan Prabowo dalam waktu dekat.

Jokowi mengaku ingin tetap menjaga persahabatan antara dirinya dengan Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Jokowi juga mengaku pertemuan dirinya dengan Prabowo sangat penting bagi masyarakat.

"Saya sudah utus orang bertemu Prabowo dan Sandi untuk mendinginkan situasi di masyarakat jangan sampai ada yang panas karena pileg dan pilpres sudah selesai," kata Jokowi.

Siap Buka Penghitungan Internal, BPN Tantang Balik Lembaga Survei Ungkap Sumber Dana

Direktur Materi Debat Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (BPN) Sudirman Said menyatakan pihaknya siap membuka data dan metode mengenai real count atau penghitungan internal Pemilu Presiden 2019.

Seperti diketahui, pasangan Prabowo-Sandiaga telah mendeklarasikan klaim kemenangan berdasarkan hasil penghitungan suara internal yang mencapai 62 persen.

Namun, Sudirman juga menantang seluruh lembaga survei yang melakukan quick count pasca-pemungutan suara terbuka soal siapa yang mendanai survei mereka.

"Kita siap nanti. Tapi kita tantang lembaga survei terbuka untuk siapa pendananya. Saya tantang mereka untuk buka dana dari siapa. Dananya dari siapa," ujar Sudirman saat ditemui di media center pasangan Prabowo-Sandiaga, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).

Sudirman menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menempuh cara-cara yang tidak profesional dalam melakukan penghitungan suara.

"Kita tidak akan menempuh sesuatu yang tidak profesional," kata dia.

Baca: Patahkan Imej Kuno, 6 Idol K-Pop Cowok Ini Malah Tampil Memukau dengan Gaya Rambut Belah Tengah

Baca: Tips Padupadankan Busana Kondangan dengan Sepatu Sneakers, Simpel Anti Ribet!

Di sisi lain, Sudirman menilai banyak lembaga survei saat ini justru menjadi tim sukses pasangan tertentu.

Kemudian, banyak pula hasil lembaga survei yang salah memprediksi hasil perolehan suara di Pilkada Jawa Barat, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Oleh sebab itu, pihaknya enggan untuk berpegang pada hasil dari penghitungan suara lembaga survei.

"Apalagi diketahui bahwa lembaga survei pernah salah total di Jawa Tengah, Jabar dan DKI. Dan diketahui pula sebagian lembaga survei itu memang oleh banyak orang dikatakan bagian dari tim sukses. Ini yang juga saya alami ketika di Jateng," ucap Sudirman.

Sebelumnya, pakar statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Asep Saefuddin menyatakan yakin pengelola lembaga survei yang terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) memiliki integritas tinggi dan bekerja secara profesional.

Asep mengatakan, sebanyak delapan lembaga survei yang melakukan hitung cepat atau quick count pada Pemilu 2019 melakukan kerja berdasarkan metodologi ilmiah, tetapi dituding melakukan rekayasa.

Menurut Asep, hitung cepat dilakukan berbasis ilmu pengetahuan dengan metodologi ilmiah.

Hal inilah yang membuat lembaga-lembaga survei tersebut berani untuk "buka-bukaan" dan siap dibedah seputar pemetaan sampel, pemilihan sampel, metodologi, serta mekanisme penghitungannya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved