Psikolog Vinny Nilai Kehadiran Rumah Aman Bagi Korban Kekerasan Sangat Penting

Psikolog Patricia Elfira Vinny, menilai bahwa keberadaan sebuah rumah aman atau salter bagi para korban kekerasan, khususnya anak

Psikolog Vinny Nilai Kehadiran Rumah Aman Bagi Korban Kekerasan Sangat Penting
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Psikolog, Patricia Elfira Vinny 

Psikolog Vinny Nilai Kehadiran Rumah Aman Bagi Korban Kekerasan Sangat Penting

PONTIANAK - Psikolog Patricia Elfira Vinny, menilai bahwa keberadaan sebuah rumah aman atau salter bagi para korban kekerasan, khususnya anak, sangat penting.

Ia mengaku, pihaknya melalu Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kabar, telah lama mengusulkan untuk adanya salter, yang saat ini hanya baru ada di tingkat provinsi.

“Kalau ada yang mau buka kenapa harus dihambat, itukan ide yang bagus, kami juga kalau misalnya mau kerjasama dengan Himpsi ada psikologi Himpsi bisa turun untuk jadi psikolog pendamping, atau apapun yang dibutuhkan di salter tersebut nantinya,” terangnya.

Himpsi juga, menurut dia sangat senang dan terbuka, apabila dari tingkat kabupaten juga ingin melakukan kerjasama.

Baca: Delapan Nama Dusun yang Ada di Desa Malikian

Baca: KPU Ajak Masyarakat Laporkan Salah Entry Data di Website KPU RI, Begini Caranya

Baca: RAMALAN ZODIAK Kesehatan Senin 22 April, Peluang Terobosan bagi Gemini, Tanyakan pada Dirimu Libra

Saat ini, ada sekitar 5 psikolog yang masih fleksibel, artinya masih punya cukup waktu untuk dimintai bantuan mendampingi para korban.

Dengan adanya salter juga, tentu akan sangat memudahkan bagi para psikolog untuk menangani para korban yang mengalami trauma psikologi.

“Dengan adanya salter mudah aksesnya, jadi kami juga mudah untuk menjangkau para korban, aksesnya lebih mudah,” ungkapnya.

Salter juga bisa jadi wadah, atau rujukan bagi para korban agar tidak bingung harus mengadu atau melapor kemana, mengenai apa yang mereka alami.

“Jadi kalau ada salter, mereka sudah tahu, oh iya mereka harus kesini, kan kadang mereka ini saking tidak tahu ada tempat untuk mengadu akhirnya bungkam, diam, tidak mau menceritakan apa yang dirasakan, dipendam aja,” kata Vinny.

Terkait adanya kekhawatiran mengenai keberadaan para korban yang akan terekspos, dengan adanya salter, menurut Vinny itu tergantung bagaimana lingkungan sekitarmau bekerjasama.

“Kalau akhirnya korban merasa tidak aman, mungkin privacy mereka terganggu, atau akhirnya ada orang yang tahu dimana anak-anak ini, sehingga mereka jadi takut keluar atau takut pergi ke salter itu berarti kan lingkungannya nggak mau kerjasama,” katanya.

Jadi memang menurut Vinny harus dari pihak lingkungan dulu,apakah mau diajak untuk jaga privacy.

Karena dari lembaga, baik Himpsi maupun KPPAD, menurutnya sudah paham akan etika yang digunakan, dimana kerahasiaan atau privacy para korban memang harus dijaga.

Penulis: Bella
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved