Kelompok Ekstremis NTJ Dikaitkan dengan Ledakan Bom Sri Lanka, NTJ Pernah Klaim Dukungan ke ISIS

Laporan tentang mereka yang pernah tercatat adalah dugaan mereka melakukan perusakan terhadap sejumlah patung Buddha yang terjadi pada 2018.

Kelompok Ekstremis NTJ Dikaitkan dengan Ledakan Bom Sri Lanka, NTJ Pernah Klaim Dukungan ke ISIS
AFP/ISHARA S KODIKARA
Petugas melakukan penjagaan pasca-ledakan yang menimpa Gereja St Anthony di Kochchikade, Kolombo, Minggu (21/4/2019). Jumlah korban tewas dalam ledakan yang menimpa sejumlah gereja dan hotel di Sri Lanka sudah mencapai 52 orang, belum dipastikan penyebab dan pelaku peledakan tersebut.(AFP/ISHARA S KODIKARA) 

COLOMBO - Sebuah laporan intelijen diunggah oleh Menteri Luar Negeri Sri Lanka Harin Fernando setelah ledakan bom mengguncang negara itu, Minggu (21/4/2019).

Dalam unggahan di Twitter, Fernando mengatakan laporan yang dikeluarkan dinas intelijen asing itu telah memperingatkan akan rencana serangan pada 11 April atau 10 hari sebelumnya.

Dalam surat itu, disebutkan National Thowheeth Jamaath (NTJ) merupakan kelompok yang merencanakan serangan bom yang menghantam delapan tempat di Sri Lanka.

Diwartakan Daily Mail, NTJ merupakan kelompok ekstremis yang dibentuk di Kattankudy, kota di kawasan timur Sri Lanka, pada 2014, dan belum mempunyai sejarah serangan massal mematikan.

Baca: Kutuk Keras Serangan Bom Bunuh Diri di Sri Lanka, Jokowi Sampaikan Duka Cita Mendalam Untuk Korban

Laporan tentang mereka yang pernah tercatat adalah dugaan mereka melakukan perusakan terhadap sejumlah patung Buddha yang terjadi pada 2018.

Sumber dari komunitas Muslim Sri Lanka menuturkan National Thowheeth Jamaath telah mengklaim dukungan kepada kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Si sumber menjelaskan Zahran Hashim yang disebut merupakan salah satu pelaku bom bunuh diri dalam serangan yang menyasar gereja serta hotel mewah itu adalah pendiri NTJ .

Dalam laporan intelijen itu, NTJ telah merencanakan serangan di ibu kota Colombo dengan prediksi metode yang dipakai antara lain bom bunuh diri, serangan bersenjata, hingga serangan truk.

Intelijen asing yang memberikan informasi tersebut diyakini adalah Australia, salah satu anggota aliansi intelijen yang dikenal dengan nama Five Eyes.

Dokumen itu menunjukkan Kepala Polisi Sri Lanka Pujuth Jayasundara kemudian merilis peringatan kepada para pejabat tinggi negara bahwa si pelaku bakal menyerang "gereja penting".

Baca: Psikolog Vinny Nilai Kehadiran Rumah Aman Bagi Korban Kekerasan Sangat Penting

Halaman
12
Editor: Marlen Sitinjak
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved