Piala Presiden

CATATAN Menarik Piala Presiden 2019: 3 Top Skor, Suporter Terbaik hingga Total Pendapatan

Perhelatan Piala Presiden 2019 telah usai dan menempatkan Arema FC sebagai juara usai menaklukkan Persebaya dengan skor 2-0.

CATATAN Menarik Piala Presiden 2019: 3 Top Skor, Suporter Terbaik hingga Total Pendapatan
Instagram/@pialapresiden_2019
PREDIKSI Juara Piala Presiden 2019, Arema FC atau Persebaya Surabaya? 

Khusus untuk laga puncak antara Persija Jakarta dan Bali United, seperti dikutip BolaSport.com, pemasukan dari tiket mencapai Rp 5 miliar.

”Luar biasa antusiasme penonton final Piala Presiden 2018. Mereka yang hadir dan membeli tiket berjumlah 68.272 orang,” kata Ara, sapaan Maruarar Sirait.

Tak hanya jumlah penonton dan penghasilan tiket yang besar, Piala Presiden tahun ini juga ibarat pesta rakyat di Indonesia.

Ara menyebut rata-rata seriap laga ditonton oleh 19.232 orang.

Deretan fakta partai Final Piala Presiden 2019 Persebaya Vs Arema :

1. Sejarah Baru Piala Presiden

Mengutip BolaSport.com, Persebaya Surabaya dan Arema FC mengukir sejarah setelah lolos ke partai final Piala Presiden 2019.

Dua tim terbaik, Arema FC dan Persebaya, telah dipastikan bakal berhadapan di partai final Piala Presiden 2019.

Kelolosan kedua tim tersebut ke partai final menjadi rekor tersendiri dalam buku sejarah Piala Presiden.

Sejak digelar pada 2015, belum ada partai final yang mempertemukan dua tim dari satu provinsi.

Baru pada edisi Piala Presiden 2019 Arema FC yang berasal dari Malang dan Persebaya dari Surabaya melakoni "derby" Jawa Timur di final.

Dominasi Jawa Timur sebenarnya sudah tampak sejak fase grup ketika mengirimkan empat wakil ke gelaran tersebut.

Jumlah itu membuat Jawa Timur menjadi provinsi yang menyumbangkan tim terbanyak ke Piala Presiden 2019.

Di Grup A ada Persebaya Surabaya yang kemudian mentas sebagai juara grup dan menembus babak final.

Kemudian di Grup D Madura United juga sukses melangkah hingga ke semifinal sebelum takluk dari Persebaya.

Di Grup E ada dua tim asal Jawa Timur, Persela Lamongan dan Arema FC, yang lolos sebagai juara dan runner-up terbaik fase grup.

Sayangnya di babak 8 besar Persela dan Madura United harus saling bunuh untuk melaju ke semifinal.

Partai yang digelar di Stadion Surajaya, Lamongan tersebut dimenangi Madura United dengan skor 2-1.

Di babak perempat final atau 8 besar, Persebaya kembali bertemu dengan Tira-Persikabo yang sama-sama berasal dari Grup A.

Persebaya pun menang 3-1 atas tim arahan Rahmad Darmawan itu.

Sementara itu Arema FC menang telak, 4-0, atas juara Liga 1 2017, Bhayangkara FC, di babak 8 besar.

Meski mendominasi di edisi Piala Presiden kali ini, Jawa Timur sebenarnya mengirimkan empat wakil juga di Piala Presiden 2018.

Namun, tak ada satu pun dari keempat tersebut yang kala itu mampu melenggang hingga ke final.

Partai puncak Piala Presiden 2018 mempertemukan Persija Jakarta vs Bali United yang berakhir dengan skor 3-0 untuk kemenangan tim ibu kota.

Kemudian pada Piala Presiden 2017, Arema FC keluar sebagai juara setelah menundukkan Pusamania Borneo FC dengan skor 5-1 di partai final.

Pada edisi pertama, Piala Presiden 2015, Persib Bandung yang menjadi juara dengan mengempaskan Sriwijaya FC di laga puncak.

Persib yang kala itu dilatih Djadjang Nurdjaman, pelatih Persebaya saat ini, menang 2-0 atas Laskar Wong Kito.

Dengan sejarah tersebut, partai Persebaya vs Arema menjadi final Piala Presiden pertama yang mempertemukan dua tim dari satu provinsi.

2. Sejarah Klub Persebaya

Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Jun 1927.

Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabajasche Indische Voetbal Bond.

Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Soerabajasche Voebal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.

Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta.

SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.

Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis Solo.

Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja).

Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi. Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1951 dan 1952.

Tahun 1959, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa.

Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta.

Dua kali Persebaya menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan lima kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1971, 1973, 1987, dan 1990.

Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi profesional bertajuk Liga Indonesia sejak 1994.

Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1996-97. Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2004 Green Force kembali merebut gelar juara.

Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu.

Pil pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama pada dua musim selanjutnya.

3. Sejarah Klub Arema FC

Arema Football Club (Persatuan Sepak Bola Arema, nama resminya) lahir pada 11 Agustus 1987.

Pada masa itu, tim asal Malang lainnya Persema Malang bagai sebuah magnet bagi Arek Malang.

Stadion Gajayana – home base klub pemerintah itu – selalu disesaki penonton.

Harus diakui, awal berdirinya Arema tidak lepas dari peran besar Derek dengan Armada 86-nya.

Nama Arema awalnya adalah Aremada, yaitu gabungan dari Armada dan Arema.

Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema 86.

Sayang, upaya Derek untuk mempertahankan klub Galatama Arema 86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena dihimpit kesulitan dana.

Dari sinilah, Acub Zaenal lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive.

Setelah diambil alih, nama Arema 86 akhirnya diubah menjadi Arema dan ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama pada 11 Agustus 1987 sesuai dengan akta notaris Pramu Haryono SH–almarhum–No 58.

Penetapan tanggal 11 Agustus 1987 itu, seperti air mengalir begitu saja, tidak berdasar penetapan (pilihan) secara khusus.

Dari pendirian bulan Agustus itulah kemudian simbol Singo (Singa) muncul.

Agustus itu identik dengan Zodiac Leo atau Singo (sesuai dengan horoscop).

Penulis: Rizky Zulham
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved