Mengulas Sosok Kartini di Masa Lalu Dengan Emansipasinya Yang Ulet

Indonesia mempunyai sosok insipiratif dari seorang perempuan yang bernama Raden Ajeng Kartini atau dikenal dengan Kartini.

Mengulas Sosok Kartini di Masa Lalu Dengan Emansipasinya Yang Ulet
ISTIMEWA
Raden Ajeng Kartini

Mengulas Sosok Kartini di Masa Lalu Dengan Emansipasinya Yang Ulet

PONTIANAK - Indonesia mempunyai sosok insipiratif dari seorang perempuan yang bernama Raden Ajeng Kartini atau dikenal dengan Kartini. 

Dalam memperingati hari Kartini pada 21 April mendatang, banyak peran yang bisa diambil untuk membuat sebuah karya yang perlu kita ketahui dari sosok tokoh perempuan yang berjuang untuk mendapatkan kesetaraan hak perempuan dan dan laki-laki dimasa lalu tersebut. 

Ada berbagai macam cara untuk memperingati Hari Kartini, satu diantaranya dengan berbagi ucapan, di media sosial seperti Twitter, Instagram dan Facebook, untuk kekasih, adik, kakak atau perempuan hebat lainnya termasuk ibu.

Sejarah diperingatinya Hari Kartini pada tanggal 21 April adalah setelah ditetapkan oleh Presiden Soekarno dengan surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964 dimana Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan sekaligus menetapkan hari lahirnya yaitu tanggal 21 April diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Baca: JADWAL Misa Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan Hari Raya Paskah di Pontianak & Singkawang

Baca: PMII Singkawang Peringati Harlah ke-59

Baca: Ini Alamat Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holitkultura Provinsi Kalbar

Baca: Sempat Terjadi Kekurangan Surat Suara di TPS 06 Punti Meraga, Ternyata Ini Yang Terjadi

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. 

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

 Kartini sangat tertarik pada kemajuan berpikir perempuan-perempuan di Eropa hingga timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi yang pada saat itu berada pada status sosial yang rendah. Surat-surat Kartini sebagai hasil korespondennya dengan beberapa rekan sahabatnya di Eropa kemudian dijadikan sebuah buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
 

-- 

Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved