Rini Kasuma: Pentingnya Penanaman dan Pengenalan Pendidikan Karakter Sejak Dini

Rini Kasuma (21) Mahasiswa semester 6 Pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) IAIN Pontianak yang juga aktif di pergerakan mahasiswa

Penulis: Anggita Putri | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Foto Bersama Rini Kasuma anggota GMSPP dan siswa, Saat mengikuti Bakti Sosial Mahasiswa di Daerah Sambas. 

Rini Kasuma: Pentingnya Penanaman dan Pengenalan Pendidikan Karakter Sejak Dini

PONTIANAK - Rini Kasuma (21) Mahasiswa semester 6 Pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) IAIN Pontianak yang juga aktif di organisasi Gerakan Mahasiswa Sambas Peduli Pendidikan (GMSPP).

Saat ditemui Tribun Pontianak di sela acara Milad Akbar ke 11 GMSPP, Rini menjadi satu diantara panitia Seminar Pendidikan yang diselenggarakan di Aula Rektorat IKIP PGRI Pontianak,minggu (14/4/2019).

Ia menceritakan ketertarikannya bergabung menjadi anggota GMSPP bukan hanya ia berasal dari Sambas, tetapi karena memang ia sedang menempuh pendidikan di bidang pendidikan sekolah dasar dan melalui GMSPP ia ingin mencari pengalaman dan menebarkan kebaikan dan mengajar anak-anak di daerah Sambas akan pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini.

Baca: FOTO: Polda Kalbar Rilis Penangkapan Kasus Narkoba dari Tersangka Diantaranya Sepasang Suami Istri

Baca: Profil Reza Abdul Jabbar Pengusaha Ternak Sapi Sukses di Selandia Baru Asal Pontianak

Baca: VIDEO: TNI-Polri Kawal Pelepasan Logistik Pemilu 2019 ke Kecamatan di Ketapang

Dari pengalaman yang sudah ia lakukan saat mengikuti Bakti Sosial Masyarakat kebeberapa daerah di pedalaman daerah Sambas, ia masih banyak menemukan siswa yang kurang tertib di kelas, sopan santun maaih kurang, kurang dalam kerapian berpakaian, dan kurang menghargai waktu.

"Jadi kalau udah waktunya masuk untuk belajar, kebanyakan keluar tidak menghiraukan guru yang ada didalam kelas ," ujarnya.

Ia juga mengatakan Pemerataan guru juga masih kurang. Bahkan ada sekolah yang gurunya masih menempuh pendidikan dan masih semester awal.

"Sekarang saya udah semester 6 sedangkan mereka guru disana ada yang baru semester 2 dan 4,dan hanya kuliah di hari sabtu saja ," ujarnya.

Namun untuk penerapan kurikum sudah bagus dan sudah menggunakan Kurikulum 2013.

"Mungkin karena gurunya kurang pengalaman jadi bisa dikatakan gurunya masih muda dan masih kuliah jadi masih kurang pengalaman untuk mengajar anak-anak dan untuk menertibkan anak-anak di kelas," jelasnya.

Saat ia pergi ke daerah Desa Sejangkung, Kabupaten Sambas, ia mengatakan bahwa jarak dari Sambas ke daerah tersebut hanya satu jam saja, namun jalannya masih rusak. Tetapi untuk bangunan sekolah Dasar disana sudah bagus dan unik. Karena dekat dengan sungai dan mencegah masuknya air saat banjir maka dibuatlah bangunan yang tinggi.

Ia mengatakan bahwa kelak ia akan menjadi calon guru dimasa depan, berasal dari Sambas membuatnya semakin ingin memajukan pendidikan di daerahnya sendiri.

"Saya ingin cari pengalaman dan saya juga belom pernah pergi ke daerah-daerah di Sambas, melalui GMSPP ini lah saya bisa bercengrama dengan banyak orang yang ada di daerah Sambas," ujarnya.

Saat ia mengikuti BSM ia lebih ingin menanamkan Pendidikan karakter.

Selain ikut GMSPP, di kampus ia juga aktif di organisasi Genta Suara Khatulistiwa (GSK) dan la juga merupakan Runner Up Duta Bapak Ibu guru PMI 2018.

Ia melihat perbandingan antara sistem Pendidikan di Sambas dan Pontianak sangat berbeda sekali, di daerah sendiri sekolahnya masih belum disiplin.

"Semoga pendidikan di Kalbar lebih mengajarkan tentang pendidikan karakter , dan anak-anak harus lebih banyak baca buku lagi. Dari sekolah juga harus lebih sediakan kegiatan seperti kegiatan keagamaan untuk para siswanya usai jam sekolah," tutupnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved