Ramli Tewas Terpanggang, Herlan: Kalau Orang Bilang Saya Tidak Sayang Ayah, Mereka Tak Tahu Apa-apa

Malam itu saya ditelpon oleh teman, saya dapat kabar kalau kontrakan ayah kebakaran, begitu sampai di sana

Ramli Tewas Terpanggang, Herlan: Kalau Orang Bilang Saya Tidak Sayang Ayah, Mereka Tak Tahu Apa-apa
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Petugas pemadam kebakaran memadamkan sisa-sisa api yang membakar rumah penduduk di Jalan Kurnia, Gg Ilahi (kota baru), Pontianak, Jumat (5/4/2019) malam. Dalam insiden ini satu orang penghuni rumah meninggal dunia. 

"Kalau orang bilang saya tidak sayang kepada ayah itu mereka tidak tahu apa-apa," ucapnya sambil meneteskan air mata.

"Malam itu saya berusaha menerobos masuk kedalam kobaran api, sempat saya tarik-tarik seng yang roboh itu untuk menyelamatkan ayah, tapi saya ditahan oleh orang-orang," tuturnya.

Herlan mengatakan, kesayangan ia kepada ayahnya bukan sebatas melepas tangung jawab saja, ia yang awalnya tinggal di Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara pindah kerumah kontrakan itu sekitar enam bulan lalu.

Setiap hari ia secara bergantian mengurus ayahnya disitu, alasan dia tak mengajak ayahnya tinggal bersamanya karena keadaan memang tak mengijinkan, ia yang hanya menumpang di panti asuhan tidam jarang tidur bersama ayahnya di kontrakan.

Sementara kakaknya yang tinggal di Gang Purnama Indah VII dalam rumah kecil, bersama suaminya dan adik perempuannya yang juga sudah menikah dan menumpang disitu, kondisi rumah yang kecil itulah membuatnya menyewa kontrakan Rp. 500 ribu perbulan untuk ayahnya.

Baca: FAKTA Orang Gila Diduga Pelaku Kebakaran,Polisi Tahan Yus hingga Selidiki Ketergantungan Obat-obatan

Baca: 8 Rumah Ludes Kebakaran di Kampung Beting, Iskandar Hanya Bisa Selamatkan Surat Rumahnya

"Dulu rumah kami di 28 Oktober, pindah kesitu sekitar enam bulan lalu, ayah saya stroke sejak dari kampung sana, sudah hampir enam tahun sakit dan lumpuh," tuturnya.

Setiap hari secara bergiliran ia, adiknya dan kakaknya datang untuk mengurus ayahnya, mulai dari mengganti pempers, memandikan hingga memberi makan.

Herlan menampik anggapan orang-orang yang mengatakan ia dan keluarganya menelantarkan ayahnya sendirian.

"Sakitnya ayah itu sejak dari kampung saya di Putussibau sana, sudah pernah dibawa kerumah sakit, namun tidak ada perubahan," tuturnya.

Mulai hari ini ia sudah ikhlas atas peristiwa yang menimpanya, ayahnya sudah dikebumikan dengan layak dan ia bersama keluarganya melakukan tahlilan dirumah kakaknya. (*)

Penulis: Rihard Nelson Silaban
Editor: Rihard Nelson Silaban
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved