Imigrasi Putussibau Sebut TKI Asal Kapuas Hulu Tak Pernah Bermasalah di Malaysia

Jumlah perlintasan orang ini menggalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2017 lalu,

Imigrasi Putussibau Sebut TKI Asal Kapuas Hulu Tak Pernah Bermasalah di Malaysia
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ SAHIRUL HAKIM
Kepala Subseksi Teknologi Informasi, Intelejen dan Penindakan Keimigrasian, Kantor Imigrasi Kelas III Putussibau, Angga Adwiyantara.   

Imigrasi Putussibau Sebut TKI Asal Kapuas Hulu Tak Pernah Bermasalah di Malaysia

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUAS HULU - Kepala Subseksi Teknologi Informasi, Intelejen dan Penindakan Keimigrasian, Kantor Imigrasi Kelas III Putussibau, Angga Adwiyantara menyatakan, sejauh ini warga Kapuas Hulu yang bekerja di Malaysia belum pernah yang bermasalah.

"Jadi ketika ada pemulangan tenaga kerja, melalui Entikong selama ini, merupakan warga dari luar pulau Kalimantan, bukan masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu," ujarnya kepada wartawan, Jumat (5/4/2019).

Berdasarkan data yang ada jumlah perlintasan orang pada tahun 2017 yang berangkat dari Badau, Kapuas Hulu (Indonesia) menuju Lubuk Antu (Malaysia) sebanyak 47.174.

 "Sementara yang datang dari Lubuk Antu ke Badau sebanyak 44.712 orang," ucapnya.

 Baca: Kini Hadir Store khusus Produk Apple di Pontianak, Ini Tempatnya

Baca: TOP Skor Piala Presiden 2019 Terbaru, Dedik Setiawan Tempel Ketat Dzhalilov di Daftar Top Skor

Angga menjelaskan, pada tahun 2018 jumlah perlintasan orang yang berangkat dari Badau menuju Malaysia sebanyak 48.714, sementara yang datang ssebanyak 47.915.

"Jumlah perlintasan orang ini menggalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2017 lalu," ujarnya.

Menurutnya, meningkat jumlah kunjungan ini dikarenakan, adanya kegiatan Festifal di Perbatasan Indonesia Malaysia wilayah Kapuas Hulu yang diadakan oleh kementrian Pariwisata.

"Untuk tahun 2019 sampai dengan Maret, jumlah perlintasan orang yang berangkat dari Kapuas Hulu menuju Malaysia sebanyak 12.965 dan yang datang dari Malaysia ke Kapuas Hulu sebanyak 12.955 orang.

"Warga Kapuas Hulu yang berkunjung ke Malaysia biasanya untuk keperluan bersilaturahmi dengan keluarga, berobat, bekerja dikebun, berladang mengasuh anak, bertukang, menjaga rumah makan dan toko,"tuturnya.

Sementara para WNA berkunjung ke Kapuas Hulu biasanya untuk keperlun berwisata dan ada juga yang bekerja diperuhaan -perusahaan serta menjadi misionaris.

"Untuk warga kita yang berangkat ke Malaysia biasanya menggunakan Pas Merah dan Paspor, khusus untuk kecamatan perbataasan seperti Empanang, Puring Kencana, Badau Embaloh Hulu dan Batang Lupar menggunakan Pas merah. Sementara 18 kecamaatan lain di Kapuas Hulu menggunakan Paspor," ucapnya.

Sedangkan untuk Pas merah batas waktu kunjungannya selama 30 hari, untuk batasan kunjungannya ke wilayah Malaysia dibatasi sampai Lubuk Antu saja, dimana jika mereka hendak ke Miri, Sibu, Kuching dan sebagainya harus menggunakan Paspor.

"Untuk warga kita yang hendak berobat biasanya mereka menggunakan paspor wisata tanpa visa. Saat ini warga Kapuas Hulu yang bekerja di Malaysia, kebanyakan dari mereka belum mendapatkan perlindungan hukum," ungkapnya.

Penulis: Sahirul Hakim
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved