Data KPPAD Kalbar Sambas Tertinggi Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Ini Tanggapan Ketua DPRD

Ketua KPPAD Eka Nurhayati Ishak menyebutkan, dalam kurun waktu dari Januari sampai dengan Maret 2019 terdapat 66 Kasus kekerasan seksual

Data KPPAD Kalbar Sambas Tertinggi Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Ini Tanggapan Ketua DPRD

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalimantan Barat, Ketua KPPAD Eka Nurhayati Ishak menyebutkan, dalam kurun waktu dari Januari sampai dengan Maret 2019 terdapat 66 Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kalimantan barat.

Dimana 23 kasus dari total 66 kasus di Kalimantan Barat adalah yang terjadi di Kabupaten Sambas.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kabupaten Sambas Ir H Arifidiar MH mengungkapkan, diperlukan peranan dari keluarga untuk mencegah maraknya kasus tersebut.

Baca: Hairiah Akui Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Sambas Tinggi, Namun Grafiknya Menurun

Baca: Warga Perbatasan Kembali Serahkan 3 Pucuk Senjata Api Rakitan ke Kodim 1205/Sintang

Baca: KPPAD Kalbar Sebut Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Sambas Ada 23 Kasus

Ia mengungkapkan, keluarga adalah tonggak utama untuk mencegah dan menghindari kasus tersebut terjadi.

"Saya tetap konsisten dan tegas mengatakan bahwa ini adalah tanggung jawab kita bersama, termasuk di rumah tangga, itu peranan orang tua sangat penting," ujarnya, Jum'at (22/3/2019).

"Sebab sebaik apapun pemerintah dalam membuat peraturan jika tidak dimulai dari keluarga maka tidak akan berhasil," tuturnya.

Politikus Partai Golkar itu menjelaskan, peran orang tua dalam hal mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku anak sangat penting.

Karena dengan demikian bisa menghindari anak dari hal-hal yang tidak di inginkan. Untuk itu ia mengajak orang tua agar berperan aktif dalam mengawasi anak-anaknya.

"Marilah orang tua agar kita betul-betul mengambil kepedulian terhadap anak-anak kita, terutama yang remaja. Anak remaja contoh jika belum pulang sampai jam 22.00 Malam wajib untuk dicari, jangan dibiarkan," ungkapnya

Selain jam malam, pria yang kerap di sapa Haji Dede itu menuturkan pengawasan penggunaan teknologi seperti Handphone (HP) android juga harus diawasi oleh orang tua.

"Kita harus mengetahui penggunaan HP anak kita, terutama mengecek ape yang dibrowsingnya atau siapa-siap teman chattingya," tegasnya.

"Pada intinya sekali lagi saya tegaskan persoalan ini merupakan tanggung jawab kita semua, baik pemerintah daerah, DPRD, masyarakat, pihak penegak hukum, pengiat sosial dan sebagainya namun tetap tegas saya mengatakan mulailah pencegahan di rumah tangga masing-masing," tutupnya.

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved