Kesaksian Korban Penembakan Masjid di Selandia Baru, Raung Peluru di Khutbah Persahabatan & Cinta

Kesaksian Korban Penembakan Masjid di Selandia Baru, Raung Peluru di Khutbah Persahabatan & Cinta

Kesaksian Korban Penembakan Masjid di Selandia Baru, Raung Peluru di Khutbah Persahabatan & Cinta
KOLASE
Kesaksian Korban Penembakan Masjid di Selandia Baru, Raung Peluru di Khutbah Persahabatan & Cinta 

Dilansir The Guardian, 41 orang meninggal dunia, terbaring di dalam dan di luar masjid Al Noor.

Tujuh orang lain lagi terbunuh di masjid Linwood, yang hanya berjarak beberapa km dari masjid Al Noor.

Korban ke-49 meninggal dunia tak lama setelah tiba di rumah sakit.

Tim polisi dan penyelamat dihadapkan dengan pemandangan yang mengerikan di dalam dan luar masjid.

Di dalam ruang utama di Al Noor, lebih dari 20 orang, beberapa meninggal dunia beberapa terluka.

Mereka terbaring di satu sisi, sementara sekitar 10 orang lain lagi terbaring di sisi satunya.

Lantai masjid dipenuhi ratusan selongsong peluru.

Tubuh orang-orang yang berusaha melarikan diri ada di dekat pintu dan jendela, tak bergerak.

Beberapa korban berada di luar masjid.

Jemaah masjid Linwood, Syed Mazharuddin menyaksikan serangan itu dan mengatakan dia mendengar suara tembakan dan bisa tahu bahwa penembaknya sangat dekat.

"Orang-orang ketakutan dan ada yang berteriak-teriak dan saya mencoba berlindung," katanya.

"Pada saat saya berlindung orang ini datang melalui pintu masuk utama dan itu adalah sebuah masjid kecil - ada sekitar 60 hingga 70 orang di sana. Di sekitar pintu masuk ada orang-orang tua yang duduk di sana berdoa dan dia mulai menembaki mereka," paparnya.

Mazharuddin mengatakan, penembak itu mengenakan alat pelindung dan menembak dengan liar.

Seorang lelaki dari dalam masjid kemudian mencoba untuk menangani penembak.

"Pria muda yang biasanya merawat masjid dia melihat kesempatan dan menerkam pria bersenjata itu dan mengambil senjatanya," kata Mazharuddin.

"Pria muda itu berusaha mengejar dan dia tidak dapat menemukan pelatuk di pistol. Dia berlari di belakangnya tetapi ada orang yang menunggunya di mobil dan dia melarikan diri."

Mazharuddin mengatakan teman-teman di sekitarnya telah tertembak di dada dan lainnya di kepala.

Solidaritas Warga Selandia Baru

Masjid Tauranga di Seladia Baru, Sabtu (16/3/2019) dikunjungi banyak warga.

Merekada datang dengan membawa bunga dan pesan dukungan.

Beberapa terlihat berdiri sejenak, memberikan penghormatan di pagar masjid yang terkunci.

Satu pesan berbunyi "Bersatu kami berdiri bersamamu" dan lilin-lilin berdiri berkelap-kelip di sudut pagar.

Seorang ibu Tauranga, yang tidak mau disebutkan namanya, membawa serta dua anaknya ke Masjid Tauranga.

Ketiganya berjongkok di dekat bunga-bunga yang diletakkan di depan masjid, saling berpelukan setelah meletakkan bunga di pagar.

Sang ibu mengatakan tindakan orang-orang yang menyebabkan tragedi Christchurch tidak mencerminkan orang Selandia Baru.

"Penting bagi komunitas Muslim untuk mengetahui bahwa orang Selandia Baru tidak berpikir atau merasa seperti itu," katanya dilansir The New Zealand Herald.

"Saya turun karena saya ingin menunjukkan kepada umat Islam bahwa kami mendukung mereka dan bahwa mereka harus merasa dicintai," katanya.

Putrinya yang berusia 3 tahun meletakkan beberapa bunga di pagar.

Warga lainnya, Jason dan Nina Palmer membawa putra mereka, Christian, ke masjid pada Sabtu pagi.

"Kami merasa terdorong untuk menunjukkan rasa hormat kami," kata Jason Palmer.

Sementara itu, pemilik restoran Te Puke, John Shrestha memilih untuk menutup pintu restoran Jellicoe St hari ini untuk berduka atas tragedi Christchurch.

"Hidup bisa sangat tidak pasti, dan ini hanya penghormatan kami, kami tidak bisa melakukan lebih dari itu," katanya.

Shrestha mengatakan itu adalah berita mengejutkan untuk mendengar jumlah nyawa yang hilang kemarin.

"Saya tidak pernah berpikir hal-hal seperti itu akan terjadi di Selandia Baru di mana ada banyak harmoni dan kedamaian," katanya.

"Tidak peduli agamamu, ini tentang umat manusia. Ini tentang cinta dan kemanusiaan. Kamu tidak bisa membeli cinta dan kedamaian," tegasnya.

Penulis: Nasaruddin
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved