Pengamat Pendidikan Menilai Ada Kesalahan Manajemen Sejak Awal Perekrutan Guru Honorer

Pengamat pendidikan dari Universitas Tanjungpura, Dr Aswandi mengakui permaslaahan terhadap tenaga guru honorer memang sangat kompleks

Pengamat Pendidikan Menilai Ada Kesalahan Manajemen Sejak Awal Perekrutan Guru Honorer
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
DR Aswandi 

Pengamat Pendidikan Menilai Ada Kesalahan Manajemen Sejak Awal Perekrutan Guru Honorer

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat pendidikan dari Universitas Tanjungpura, Dr Aswandi mengakui permaslaahan terhadap tenaga guru honorer memang sangat kompleks, menurutnya kesalahan berada pada manajemen perekrutan sejak awal.

"Pertama masalah guru honorer ini sangat kompleks, terus terang saja itu ada kesalahan manajemen dari awal. Nah inilah dampaknya sekarang karena dibiar-biarkan saja," ujarnya saat dihubungi Tribun, Sabtu (23/2/2019).

Dr Aswandi mengatakan ada kesalahan dalam perekrutan guru honor, dimana Kepala Sekolah banyak merekrut guru honor tanpa mempertimbangkan kebutuhan.

Baca: Kisah 7 Artis Cantik Dunia Derita Endometriosis, Berjuang Keras Melawan Rasa Sakit di Tubuhnya

Baca: Tak Langgar Aturan Kampanye, Ganjar Pranowo dan 31 Kepala Daerah Dukung Jokowi Kena Pasal Netralitas

Baca: Langgar Batas Sempadan Jalan, 3 Panel Surya dan 2 Meja Display Milik Pelaku Usaha Diangkut Satpol PP

"Misal kesalahan pertama ketika perekrutan guru honorer itu, seenaknya saja Kepala Sekolah (Kepsek) merekrut guru honor, tidak di imbangi dengan kebutuhan yang sebenarnya, meski ada juga yang memang direkrut karena diperlukan," tuturnya.

Menurutnya hal itu bisa dikatakan saat rekrutmen tenaga guru honorer itu tidak di urus dengan serius, sekarang setelah mereka menuntut gaji yang layak, siapa yang mau menggaji kata dia.

"Kepsek juga darimana mau menggaji mereka, karena tidak bisa sembarangan, mestinya sejak awal guru honor sudah harus direncanakan dan di manajemen dengan baik oleh pemerintah," katanya.

Dr Aswandi mencontohkan, misalnya untuk guru SD sampai SMP itu kewenangan Kabupaten Kota, dan tentu mereka harus sudah mendata, selama ini Kepsek yang memerlukan tambahan tenaga guru tentu merekrut tenanga guru honorer.

"Sebagai Kepsek tentu dia yang bertanggung jawab, namun pemerintah daerah tidak serius, akhirnya menumpuk sampailah 165.000 tenaga guru honor seluruh Indonesia yang tidak terkendalikan itu," pungkasnya.

Penulis: Ya'M Nurul Anshory
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved