3 Meninggal di 2018, Diskes Alokasikan Anggaran Pengendalian dan Pencegahan Terbesar DBD Tahun 2019

Handanu berharap tak adalagi korban meninggal karena DBD 2019 ini, karena sepanjang 2018, ada tiga warga yang meninggal

3 Meninggal di 2018, Diskes Alokasikan Anggaran Pengendalian dan Pencegahan Terbesar DBD Tahun 2019
TRIBUPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu 

3 Meninggal di 2018, Diskes Alokasikan Anggaran Pengendalian dan Pencegahan Terbesar DBD Tahun 2019

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sepanjang 2018 lalu, Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatatkan ada tiga warga Pontianak meninggal dunia karena serangan Demam Berdarah Dengan Dangue (DBD).

Sebagai kawasan endemis perkembang biakan nyamuk aides aigepty, Pontianak sulit untuk dibebaskan dari DBD, namun menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu pihaknya terus melakukan upaya pengendaliannya.

Awal 2019 ini, ia menyebutkan masih terjadi warga yang terlena serangan DBD.

"Angka DBD terus bertambah diawal tahun ini, karena sampai saat ini pantauan kita pada laporan semua rumah sakit Pontianak masih di temukan kasus kasus DBD tiap minggunya," ucap Handanu, Sabtu (23/2/2019).

Namun kasus yang terjadi, tidak menunjukkan lonjakan yang tinggi. Berarti menurutnya masih dalam angka yang wajar, karena memang sulit meniadakan kasus DBD sebagai kawasam endemis.

Handanu berharap tak adalagi korban meninggal karena DBD 2019 ini, karena sepanjang 2018, ada tiga warga yang meninggal.

Baca: Family Gathering AAUI di Gardenia Resort Berlangsung Seru

Baca: BREAKING NEWS - Warga Jeruju Dihebohkan Sepeda Motor Terbakar, Nyala Api Membesar

Handanu menjabarkan sebagian besar kasus DBD di Kota Pontianak menyerang anak berumur lima sampai 15 tahun.

Pengendalian kasus DBD, menjadi prioritas dari pihak Dinkes Pontianak. Karena DBD merupakan penyakit menular yang cukup beresiko di Pontianak sebagai kawasan endemis.

"Pengendalian DBD Isudah menjadi prioritas utama kalau di Kota Pontianak kaitannya dengan penyakit menular itu menjadi perhatian," tambahnya.

Bahkan pada tahun 2019 ini, pihaknya sudah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk DBD.

Kecamatan yang paling tinggi disebut, Handanu adalah, Pontianak Kota dan Pontianak Barat. Maka pengendaliannya dengan memaksimalkan pemantauan jentik nyamuk yang dilakukan oleh Kader Jumantik.

"Kalau untuk penyakit menular paling besar anggarannya pengendalian DBD, saya tidak bisa menyebutkan rupiahnya karna anggaran itu tersebar di semua Puskesmas dan dana itu berasal dari dana BLUD dana BOK," jelasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved