Ritual Adat Dayak Pesaguan Untuk 'Nikah Kawin' di Tumbang Titi Ketapang

Suara tabuhan musik yang menggelegar dari dalam rumah khususnya bagi orang Dayak Tumbang Titi suku Dayak Pesaguan, Kecamatan Tumbang Titi Ketapang

Ritual Adat Dayak Pesaguan Untuk 'Nikah Kawin' di Tumbang Titi Ketapang
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Acara nikahan adat Dayak 

Ritual Adat Dayak Pesaguan Untuk 'Nikah Kawin' di Tumbang Titi Ketapang

Citizen Reporter
Komsos Keuskupan Agung Pontianak
Samuel

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Suara tabuhan musik yang menggelegar dari dalam rumah khususnya bagi orang Dayak Tumbang Titi suku Dayak Pesaguan, Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang sudah menjadi kebiasaan turun temurun saat diadakan pesta pernikahan maupun lain yang bernuansa adat.

Ada empat Tetawak, diringi dengan Kelintang, Gendang dan Katansik yang mengiringi seorang Penggayong (seorang pak tua yang membawa minuman tuak dengan enam tanduk kerbau yang diisi dengan tuak) dengan mengelilingi semua orang dalam rumah seraya memberikan salam hormat sekaligus memberikan minuman sebagai tanda selamat dan penghormatan kepada tamu undangan.

Pak Mada mengaku bangga bisa terlibat dalam acara yang bernuansa adat istiadat; "sebab dengan inilah kesempatan kami orang muda untuk kembali merenungkan betapa kaya-nya budaya kami orang Dayak yang tinggal di Tumbang Titi," ujarnya.

Baca: Resep Bakso Penyet, Citarasanya Pasti Sukses Bikin Ketagihan

Baca: Malam Silaturahmi Forum Lalu Lintas Merefleksikan Anggota Santlantas Polresta Pontianak

Baca: Update Cuaca Terkini Kabupaten Kapuas Hulu

"Saya sering mengikuti kegiatan seperti ini, terutama saat ada pesta kawin, bayar niat dan berkat rumah tempat tinggal sebagai pemain Tetawak. Kegiatan adat ini tentunya merupakan sebuah peninggalan yang tidak boleh kami lupakan begitu saja. Dengan adanya ini, bagi saya nenek moyang kami mengajarkan kepada kami betapa pentingnya terlibat dalam masyarakat secara utuh untuk memeriahkan pesta sekaligus sebagai ajang mengenalkan budaya kami, " tambahnya.

"Ada enam tanduk kerbau yang dijalankan sebagai wadah suguhan minuman tuak, ini menandakan bahwa acara ini meriah," Kata Pak Petrus Sinar.

"Tanduk kerbau yang sudah diisi dengan tuak ketika disuguhkan dengan tamu undangan harus wajib diminum 'meskipun sedikit, ' sebab kepercayaan orang Dayak Pesaguan yakini akan menghindarkan diri mereka dari hal-hal yang merujuk musibah alias 'kempunan' kata orang Ketapang," katanya.

"Pancong Tajam Ular Bisa, itulah yang dihindarkan saat ditawarkan minuman tuak. Sebab hal itu adalah bahasa yang digunakan nenek moyang dulu, yang telah menjadi keyakinan mendarah daging sampai saat ini. Untuk kita yang hidup di generasi sekarang, bahwa menghormati hal-hal sederhana adalah hal yang paling penting supaya kita dihindarkan dari hal-hal yang tidak kita inginkan,"katanya.

Pak Petrus Sinar juga menambahkan bahwa acara seperti ini, dilaksanakan jika ada acara yang bernuansa adat seperti upacara perkawinan, bayar niat, Palit Bunting (orang hamil), kelahiran bayi, Menyandung (membangun kuburan), Menambak (membaharui kiburan), Berayah (menyembuhkan orang sakit) dan masih banyak lagi acara-acara adat yang menggunakan musik.

"Bagi kami upacara adat dengan menggunakan musik merupakan bagian inti dan paling penting. Mengapa demikian? Sebab, dengan musik kita bisa menyatukan semua orang dengan tarian dan sekaligus menciptakan suasana meriah yang tandanya adalah acara Adat," imbuhnya.

Perlu kita ketahui bahwa adat istiadat adalah Identitas diri kita yang tidak boleh ditinggalkan. Maka dari itu, dengan adanya acara ini, kita diingatkan untuk selalu menghargai hidup masyarakat yang bermoral dan saling bergotong royong.

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved