Cabuli Murid Dalam Kelas, Guru Matematika Ini Diringkus Polisi

"Perbuatan tak senonoh itu telah dilakukan tersangka lima kali. Di dalam kelas dan di kebun belakang sekolah," kata Rizal

Cabuli Murid Dalam Kelas, Guru Matematika Ini Diringkus Polisi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
IA pelaku pencabulan terhadap muridnya sendiri di salah satu sekolah dasar di Kota Pontianak saat press release oleh Wakasat Reskrim Polresta Pontianak Iptu Muhammad Rezky Rizal di Mapolresta Pontianak, Jalan Johan Idrus, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (4/2/2019) siang. Ia yang merupakan wali kelas dan guru matematika korban nekat mencabuli korbannya dengan iming-iming mengajari korban pelajaran matematika. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak; Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Dunia pendidikan di Kota Pontianak tercoreng oleh ulah seorang oknum guru matematika berinisial IA (57). Oknum guru PNS di sebuah SD Negeri di Jalan Purnama Pontianak Selatan diduga kuat melakukan perbuatan tak senonoh pada muridnya sendiri sebanyak lima kali. Kini, guru wali kelas pengajar matematika itu pun meringkuk di tahanan Polresta Pontianak.

Wakasat Reskrim Polresta Pontianak, Iptu Moch Rezky Rizal menuturkan, pencabulan terhadap siswi SD yang dilakukan tersangka yang merupakan wali kelas korban ini terkuak setelah kakak korban melaporkannya ke Polresta Pontianak.

"Perbuatan tak senonoh itu telah dilakukan tersangka lima kali. Di dalam kelas dan di kebun belakang sekolah," kata Rizal di Mapolresta Pontianak, Senin (4/2/2019) siang.

Dari catatan kepolisian, tersangka mengakui perbuatanya itu sebanyak lima kali sejak Desember 2018 dan Januari 2019. Lokasinya di dalam kelas dan di kebun dekat sekolah.

“Perbuatan itu di lakukan tersangka selama tiga kali pada Desember 2018 dan tanggal 16 Januari 2019 dan 24 Januari 2019,” terang Wakasat.

Baca: Warga Tionghoa Sembahyang Pada Perayaan Imlek 2570 di Vihara Paticca Sammuppada Borneo

Baca: Karni Ilyas Ungkap Sikapnya saat Rezim Soeharto! Tulis Kepastian Hukum Usai Kerusuhan Berbau SARA

Secara rinci IA melakukan tindakan asusila pertama kali pada Desember 2018 di kebun dekat sekolah sekitar pukul 10 WIB. Dan kedua kalinya pada 16 Januari 2019 sekitar pukul 11.00 WIB di dalam kelas dan di kebun. Pada 24 Januari 2019 di lakukan dalam kelas dan kebun saat jam istirahat.

“Untuk modus yang di lakukan IA terhadap korban yakni mengajak mengerjakan tugas sekolah. Karena IA merupakan wali kelasnya dan guru bidang studi matematika,” terang Iptu M Rizal di dampingi Kanit Pelayanan Perempuan dan anak (PPA), Iptu Inayatun Nurhasanah.

Wakasat menerangkan, pernah IA mengajak korban mengerjakan tugas namun korban sempat menolak hingga korban dtarik paksa ke atas motor dan dibawa ke kebun. Selanjutnya sampai di pondok, korban dipeluk dan diperlakukan tak senonoh.

Korban yang trauma lalu enggan ke sekolah dan korban pun akhirnya mengadukan perlakuan IA pada kakaknya hingga kasus ini berujung pada pelaporan ke polisi. Setelah melakukan pemeriksaan pada korban dan saksi, petugas pun meringkus tersangka di rumahnya tanpa perlawanan, beberapa hari lalu. Tersangka juga mengakui semua perbuatannya.

Akibat ulah bejatnya, pelaku dijerat pasal 81 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak. “Ancaman hukumannya minimal lima tahun dan di atas 15 tahun penjara,” tandas Wakasat yang mengatakan karena tersangka merupakan tenaga pendidik, yakni guru serta wali kelas korban, maka hukumannya ditambah sepertiga dari ancaman pidana.

Penulis: Syahroni
Editor: Didit Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved