Pancasila dalam Praksis Hidup Orang Dayak

Hadir dalam seminar itu adalah para guru agama Kristen Protestan, Penyuluh Agama Kristen Protestan, para Hamba Tuhan se-Kabupaten Sambas.

Pancasila dalam Praksis Hidup Orang Dayak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Foto bersama sosialisasi empat pilar oleh Anggota DPD RI, Maria Goreti belum lama ini 

Citizen Reporter

Thomas Diman

Staf

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Pagi itu itu, 21/1/2019 di Gereja Kristen Baptis Indonesia di Desa Sempuat, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, terlihat sangat ramai kedatangan ratusan tamu undanggan peserta sosialisasi empat pilar dan yang menjadi narasumber adalah Maria Goreti, anggota DPD RI. 

Hadir dalam seminar itu  adalah para guru agama Kristen Protestan, Penyuluh Agama Kristen Protestan, para Hamba Tuhan se-Kabupaten Sambas.

Dalam paparannya, Maria Goreti mengatakan bahwa Orang Dayak merupakan manusia yang dapat menemukan keberadaan dirinya sebagai makhluk berakal-budi yang luhur, mampu berperan aktif dalam pembangunan, dan tidak kehilangan pedoman dan arah.

Baca: Polsek Belitang Gandeng Para Tokoh Agama Jaga Kamtibmas Jelang Pemilu

Baca: Perwira Polisi Diduga Fasilitasi Gembong Narkoba Kabur dari Sel Tahanan

“Saya mengemukakan bahwa pedoman manusia Dayak dengan apa yang saya sebut “Trifilosofis Dayak”, yaitu “Basengat ka’ Jubata, Bacuramin ka’ Saruga, Adil ka’ Talino” (Bernafas pada Tuhan, Bercermin pada Surgawi, Keadilan pada sesama manusia,” kata Senator yang hampir tiga periode (2004-2019) mewakili Provinsi Kalimantan Barat.

Sangat penting sebagai sikap hidup, pandangan hidup, dan pedoman hidup manusia etnis Dayak.

Dimensi vertikal, horizontal dan sosial hidup manusia Dayak bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman dan tanpa batas lokus. Nilai hakiki yang ada: nafas, hidup/kehidupan, percaya kepada Tuhan, berorientasi pada kehidupan Surgawi (Baik, damai, bahagia dan sejahtera), keadilan sosial (adil pada sesama).

“Satu pertanyaan reflektif kita adalah mengapa bangsa ini menetapkan  Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara”? Dalam paparannya, Senator yang hampir sepanjang hidupnya sebagai wakil daerah ini blusukan ke kampung-kampung ini mengatakan dengan metafora, “Pertama, Pilar ataupun tiang penyangga suatu bangunan harus memenuhi syarat, yaitu di samping kokoh, juga harus sesuai dengan bangunan yang disangganya. Tiang yang diperlukan disesuaikan dengan jenis dan kondisi bangunan tersebut.

“Kedua, Keindonesiaan kita memerlukan tiang yang kuat karena akan menopang bangunan masyarakat yang dinamis, yang dibentuk dari berbagai suku, bahasa, keyakinan, adat istiadat, tradisi.  Kita sadar bahwa Indonesia ialah negara yang besar, wilayahnya cukup luas, yang membentang dari barat ke timur dari Sabang sampai Merauke, dari utara ke selatan dari pulau Miangas sampai ke pulau Rote.” Katanya berapi-api. 

Pada sesi berikutnya, Maria mengatakan bahwa peran guru, para penyuluh, dan para  Hamba Tuhan sebagai pelaku, saksi, penyampai, pemelihara, pengajar nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai universal.

Di samping itu juga  sebagai pelaku dalam gerakan revolusi mental Indonesia (integritas, etos kerja, gotong-royong).

Tentu saja dalam konteks Kristiani sebagai saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari dan kerja di segala bidang (memperjuangkan kebenaran, memerangi kepalsuan).

“Intinya, kita semua dipanggil  sebagai pendidik dalam memajukan pendidikan yang berkarakter (keluarga, sekolah, dan masyarakat) menjadi manusia Indonesia dari suku Dayak yang memiliki kompetensi yang memadai, memiliki moralitas sebagai saksi Tuhan, dan memiliki solidaritas atau rasa perasaan kepada sesamanya ” Kata Maria Goreti dalam sesi penutup acara hari itu. (*)
 

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved