Diskes Kubu Raya Siap Hadapi Siklus Lima Tahunan DBD di 2019

2018 ada lima, satu bukan penduduk setempat, sedang berkunjung, dan kejadian terlalu singkat karena berkunjung dua tiga hari dan positf DBD. tapi itu

Diskes Kubu Raya Siap Hadapi Siklus Lima Tahunan DBD di 2019
Ilustrasi
Demam Berdarah

Diskes Kubu Raya Siap Hadapi Siklus Lima Tahunan DBD di 2019

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Memasuki siklus lima tahunan demam berdarah dengue (DBD) Dinas Kesehatan Kubu Raya terus berupaya meningkatkan pencegahan. Dimana upaya ini diakui Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani telah dilakukan sejak pertengahan 2018 lalu.

"Upaya sudah dilakukan sejak pertengahan 2018 lalu, selain itu kita juga terus, memantau peningkatan kasus dan juga kasus kematian akibat DBD," ujar Berli.

Pada 2018 lalu menurut Berli terdapat lima kasus kematian akibat DBD di Kubu Raya yang telah dimasukan dalam data Dinkes Kubu raya.

"2018 ada lima, satu bukan penduduk setempat, sedang berkunjung, dan kejadian terlalu singkat karena berkunjung dua tiga hari dan positf DBD. tapi itu tetap masuk ke data Kita," katanya.

Baca: 2019, Dewan Kubu Raya Minta Tak Ada Kasus DBD Renggut Korban Jiwa

Baca: Destinasi Baru, Menikmati Suasana di Kapal Wisata di Sungai Sambas

Baca: Pemadaman Listrik Terkesan Main-main, Tokoh Masyarakat Dukung Sekda Panggil PLN Ketapang

Baca: BREAKING NEWS - Pelaku Jambret Beraksi di Jalan Tanjung Raya, Pepet Motor Korban

Selain berbagai program pencegahan diakui olehnya sosialiasi bahaya DBD juga terus diupayakan oleh pihaknya.

"Selain juga promosi kita sampaikan potensi dan ancaman DBD di tahun 2019 ini. Kemudian pembagian ABT juga terus dilakukan melalui Puskesmas di Kubu Raya, dibeberapa tempat juga sudah di lakukan fogging," tuturnya.

Untuk melakukan Fogging menurutnya harus ada syarat-syarat yang dipenuhi namun untuk ketersediaan perlahan dan obat yang akan digunakan menurutnya sudah siap.

"Fogging juga ada syaratnya harus terkonfirmasi positif dari laboratorium namanya Fogging focus. Untuk obatnya tersedia, cuma permasalahannya perlu solar dan tenaga. Dibeberapa Puskesmas yang daerahnya tidak sulit bisa menggunakan anggaran Puskesmas. Mungkin di daerah luas, sampai ke lokasi tempat DBD sulit itu kadang-kadang solarnya dibantu masyarakat setempat," pungkasnya. (*)

Penulis: Try Juliansyah
Editor: Rihard Nelson Silaban
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved