Pentas Teater Jamilah dan Sang di Atas Atas : Kisah Gelap Perdagangan Perempuan Tak Lekang Waktu

Dengan keadaan yang seperti itu, dia harus mau ikut khendak orangtuanya yang meminta Jamilah untuk menjadi seoran PSK

Pentas Teater Jamilah dan Sang di Atas Atas : Kisah Gelap Perdagangan Perempuan Tak Lekang Waktu
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ BELLA
Sepenggal adegan dalam Pementasan Teater Berjudul Jamilah dan Sang Di Atas Atas di Taman Budaya Provinsi Kalbar Sabtu (12/1 /2019) 

Pentas Teater Jamilah dan Sang di Atas Atas : Kisah Gelap Perdagangan Perempuan Tak Lekang Waktu

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sanggar Termos SMA Negeri 1 Pontianak menggelar Pementasan Teater Berjudul Pementasan Teater berjudul Jamilah dan Sang Di Atas Atas.

Naskah Ratna Sarumpaet yang diadopsi sekaligus disutradarai oleh Domble Adhari itu berlangsung di Taman Budaya Provinsi Kalbar Sabtu (12/1 /2019).

Aslinya merupakan sebuah film berjudul Jamilah dan Sang Presiden, dirilis pada tahun 2009.

Baca: Unique Cafe Jalan KH Ahmad Dahlan Suguhkan Suasana Koboi dengan Menu Nusantara

Baca: Cuaca Di Kota Sanggau Terpantau Mendung Pagi Ini

Baca: Inggid Wakano Nyanyi Selalu Cinta KOTAK, Expert Rising Star Rossa Mengaku Surprise

Bercerita mengenai kisah hidup seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang dipenjara karena membunuh seorang mentri.

Tak berbeda jauh dari naskah aslinya, ditemui usai pementasan Domble mengungkapkan bahwa naskah yang ia adopsi bercerita mengenai seorang perempuan bernama Jamilah.

Ia lahir di lingkungan yang tidak dapat ia pilih, yaitu ditengah carut marut kehidupan prostitusi.

Dengan keadaan yang seperti itu, dia harus mau ikut khendak orangtuanya yang meminta Jamilah untuk menjadi seorang Pekerja Seks Komersial (PSK).

Baca: Gelar Pentas Teater, Sanggar Termos Angkat Kisah Seorang PSK yang Bunuh Seorang Mentri

Baca: Kisah Lakon Matilda Oleh Teater Dasa SMA Negeri 10 Pontianak

Butuh waktu sekitar 3 bulan, dan melibatkan sekitar 30 orang dalam pementasai ini Domble juga telah melakukan riset sebelumnya.

"Kebutuhan seksualiatas itu tinggi, dimanapun ada, termasuk di Pontianak ada beberapa daerah yang berdampak jadi hal yang dianggap "biasa" bahkan jadi kebutuhan masyarakat," katanya.

Halaman
123
Penulis: Bella
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved