Hadiri Pernikahan Pakai Busana Adat Dayak di Semarang, Yulius Tehau Jadi Objek Foto Tamu Undangan

Meskipun tidak lagi menggunakan tengkorak dan tulang asli binatang, busana adat itu diganti dengan ukiran kayu yang mirip dengan aslinya.

Hadiri Pernikahan Pakai Busana Adat Dayak di Semarang, Yulius Tehau Jadi Objek Foto Tamu Undangan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Anggota DPRD Sanggau, Yulius Tehau SP saat menghadiri resepsi putra dari pasangan Hardhono Susanto dan Grace W Susanto disatu diantara hotel berbintang di Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini. 

Hadiri Pernikahan Pakai Busana Adat Dayak Di Semarang, Yulius Tehau Jadi Objek Foto Tamu Undangan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Anggota DPRD Sanggau, Yulius Tehau menjadi objek foto tamu undangan resepsi pernikahan Adhyatmika Ardhanaputra dan Vandalita Kusuma Wardhani disatu diantara hotel berbintang di Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini.

Yulius Tehau yang datang menghadiri resepsi putra dari pasangan Hardhono Susanto dan Grace W Susanto itu menggenakan busana adat dayak Kalbar.

Baca: Cari Makan Siang di Sanggau? Masakan RM Lestari Harganya Terjangkau

Baca: Poltesa Tanda Tangan MOU Dengan Kanwil DJP Kalbar

Baca: ILC TVOne Malam Ini Menjelang Debat Capres: Siapa Yang Meneror KPK

“Pakaian adat dayak tersebut bukan satu-satunya busana tradisional yang dikenakan tamu resepsi. Para tamu sengaja diminta menggunakan busana tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia, ” kata Anggota DPRD Sanggau, Yulius Tehau, Selasa (15/1).

Tehau menjelaskan, ia datang ke resepsi ini sebagai kerabat dari Handono dan Grace. Ia merupakan anak asuh Hardono dan Grace saat menempuh pendidikan di Semarang.

“Waktu dulu kuliah di Semarang, saya iktu Pak Hardono dan Ibu Grace, ” ujarnya.

Tehau mengaku bangga dengan resepsi pernikahan putra bungsu Hardono dan Grace tersebut. Karena, selain salah satu bentuk pelestarian budaya, beragamnya busana dan kuliner tradisi nusantara itu sebagai bentuk aktual bhineka tunggal ika.

Ia menambahkan, dirinya sengaja menyiapkan busana adat dayak itu dari jauh-jauh dari.

Meskipun tidak lagi menggunakan tengkorak dan tulang asli binatang, busana adat itu diganti dengan ukiran kayu yang mirip dengan aslinya.

“Memang sengaja saya bawa di Sanggau untuk menghadiri resepsi pernikahan ini. Ini busana adat yang biasa digunakan saat perayaan pernikahan maupun panen di Kalbar, ” pungkasnya. 

Penulis: Hendri Chornelius
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved