Public Speaking Camp, Ajak Anak Lepas dari Gadget

Public Speaking Camp ini adalah melatih daya sosialisasi generasi Zeru yang katanya sudah terkontaminasi dengan gadget addict

Public Speaking Camp, Ajak Anak Lepas dari Gadget
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Peserta Public Speaking Camp foto bersama usai kegiatan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK - Public speaking camp 2019 yang digelar Borneo Talent School mengangkat tema No Gadzet & Internet, YES kreatif & Inovatif.

Kegiatan ini diikuti 29 peserta dari usia 3 hingga 13 tahun yang terbagi dalam 3 kelompok yaitu Youtober, Influencer dan Motivator.

Baca: Kapendam XII TPR Ingatkan Prajurit Bijak Bermedsos

Baca: Eks Kepala Kru Valentino Rossi Sebut Marc Marquez Bisa Jadi Juara Dunia Jika Pindah Tim

Kegiatan yang melibatkan anak-anak bertalenta ini dilaksanakan di Agrowisata Balek Kampoeng yang merupakan agrowisata berbasis desa yang ada di Desa Kalimas, Kabupaten Kubu Raya.

Manajement Borneo Talent School, Aris Kafilah, menjelaskan kegiatan ini juga menjadi wadah buat warna mencari rezeki dan anak-anak mereka ikut belajar hal baru dengan adanya Public Speaking Camp ini.

Tujuan diadakanya Public Speaking Camp ini adalah melatih daya sosialisasi generasi Zeru yang katanya sudah terkontaminasi dengan gadget addict (kecanduan gadget).

"Mereka ini jadi susah untuk bersosialisasi,berkolaborasi dan bersinergi karena mereka punya dunia farming yang kuat yaitu dunia digital dan dunia nyata,” papar Aris.

Dengan public speaking camp ini, Borneo Talent School ingin mengajak gererasi zeru menyadari ada dunia nyata yang semuanya itu bisa maksimal dengan komunikasi langsung bail verbal dan non verbal agar adaptasi di lingkungan menjadi cepat dan tepat.

“Tidak seperti dunia gadget sata bermodalkan jari jemari semua bisa dikendalikan, sehingga selama public speaking camp para peserta tidak mengunakan gadget sama sekali,” ungkapnya.

Kegiatan ini mengusung tanpa 5M yaitu mencatat, menghafal, mengejek, membandingkan, dan menyuruh. Jadi fokus pada 5B yaitu berkarya, berkreasi, bersama, berbagi dan bercerita.

“Sehingga para peserta benar-benar berinteraksi secara penuh dengan sesama peserta, kakak mentor dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Menurutnya, paling tidak dari 365 hari ada 1 hari, yaitu dari pukul 08.00-15.00 para peserta ini tidak memegang gadget sama sekali dan terbukti mereka mampu dan tidak merasa kehilangan dunianya dengan tanpa gadget di tangan mereka.

“Jadi yang dibutuhkan generasi zeru ini adalah teman dan media bermain juga belajar yang tepat. Sehingga tidak hanya imajinasi yang bekerja tetapi juga komunikasinya,” tambahnya.

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved