Pemda Kapuas Hulu Upaya Atasi Abrasi Tepian Sungai

Terkait penanggulangan abrasi, telah dilakukan oleh Pemkab Kapuas Hulu dengan menganggarkan pembangunan tebing atau baru.

Pemda Kapuas Hulu Upaya Atasi Abrasi Tepian Sungai
TRIBUPONTIANAK.CO.ID/SAHIRUL HAKIM
Sekda Kabupaten Kapuas Hulu Muhammad Sukri. 

Laporan wartawan Tribun Pontianak Sahirul Hakim

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUAS HULU - Abrasi tebing sungai menjadi ancaman sendiri bagi masyarakat di Kapuas Hulu. Sebab banyak pemukiman warga di sekitar pesisir sungai.

Permasalahan abrasi terjadi di beberapa kecamatan, diantaranya di Kampung Prajurit kecamatan Putussibau Utara, kemudian di desa Kara'am - Banyu kecamatan Embaloh Hulu, desa Nanga Danau kecamatan Kalis, desa Sayut dan desa Sungai Uluk di Kecamatan Putussibau Selatan, kecamatan Mentebah.

Baca: Belum Terungkap! 3 Kasus Kekerasan dan Pembunuhan Menonjol di Kapuas Hulu, Pelaku Masih Tanda Tanya

Baca: Tagana Dukung Terbentuk BPBD di Kapuas Hulu

Terkait penanggulangan abrasi, telah dilakukan oleh Pemkab Kapuas Hulu dengan menganggarkan pembangunan tebing atau baru.

Hanya saja upaya tersebut belum dapat mengatasi permasalahan abrasi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas Hulu Muhammad Sukri menyatakan Pemkab Kapuas Hulu sudah berusaha semaksimal mungkin mengatasi abrasi. Tapi di Kapuas Hulu ini tidak pernah bisa menangani abrasi tersebut.

"Terjangan sungai waktu banjir di Kapuas Hulu ini banyak yang ganas, bebapa milyar kita anggarkan untuk mengatasi itu tidak mampu mengatasi abrasi," ujarnya kepada wartawan, Rabu (2/1/2019).

Untuk masalah abrasi ini, kata Sekda salah satu solusinya adalah memotong arus sungai ke anak-anak sungai terdekat. Sehingga terjangan air tidak kuat.

"Kemaren di desa Sepan Padang kecamatan Kalis ada masalah abrasi. Kita usahakan dipotong, tidak membangun konstruksi. Kalau ada yang bisa dipotong kita minta di potong seperti di Sepan Padang itu, kalau bangun konstruksi lagi tidak bisa, faktor alam sulit melawannya," ucapnya.

Sekda menjelaskan cara memotong sungai sudah dilakukan di kecamatan Metebah, hasilnya masalah abrasinya sudah selesai. Kalau tidak dipotong ke anak sungai ada banyak pemukiman warga yang kena dampaknya. "Cara seperti ini mungkin bisa diterapkan di Martinus," ujarnya.

Untuk Martinus pembuatan pintasan sungai cukup jauh, sekitar 300 meter.

"Ini tidak masalah sebetulnya, kita buat pintasan kan menggunakan alat berat bukan tenaga manusia," ungkapnya. 

Penulis: Sahirul Hakim
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved