Ketapang Berstatus KLB Rabies, Banyak Ditemukan Hewan Penular Rabies

Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim One Health Kecamatan Marau, korban meninggal bernama Cinta.

Ketapang Berstatus KLB Rabies, Banyak Ditemukan Hewan Penular Rabies
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Suntik Anti Rabies pada Hewan Peliharaan 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Nur Imam Satria

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Hingga saat ini, Ketapang masih menyandang status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies. Selain masih banyak ditemukan Hewan Penular Rabies (HPR) yang positif rabies, di tahun 2018 ini virus rabies juga telah menelan korban jiwa. Satu anak di Kecamatan Marau meninggal dunia setelah digigit anjing. Jumat (21/12/2018).

Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim One Health Kecamatan Marau, korban meninggal bernama Cinta.

Bocah perempuan yang masih berusia 10 tahun itu meninggal dunia pada Oktober lalu. Korban digigit anjing antara 4-6 bulan lalu di bagian jempol kaki kanannya.

Warga Tanjung Batu Desa Batu Payung Dua Kecamatan Marau ini tidak dapat diselamatkan karena virus rabies telah menyerang bagian otak korban.

Baca: Cipta Kondisi Jelang Pemilu, Polsek Menyuke Laksanakan DDS pada Warga

Baca: Cara Jadikan WhatsApp Tetap Centang Satu Walau Sudah Dibaca, Seperti Offline Padahal Sedang Online

Tim One Health Marau yang dipimpin oleh Dr. Khairul Bahri Tambunan, mengumpulkan sejumlah fakta. Pada 26 Oktober 2018, tim investigasi Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) One Health mendapatkan laporan dari Puskesmas Marau, ada pasien datang ke Puskesmas dengan kondisi suspek rabies.

Saat diperiksa oleh dokter, korban menunjukkan prilaku seperti layaknya pasien rabies. Korban mengerang kesakitan, susah menelan air, kaki kram, sering meludah dan mudah emosi.

Dokter pun menanyakan kepada bapak korban, Banus, dan ternyata benar korban pernah digigit anjing sekitar 4-6 bulan lalu. Korban digigit oleh seekor anak anjing di bagian jempol kaki kanannya. Anjing tersebut menggigit setelah diusir korban karena mengganggu korban yang sedang makan.

"Orang tua korban memberikan informasi bahwa 4 atau 6 bulan yang lalu anaknya digigit anjing miliknya sendiri. Karena lukanya kecil di jempol kaki dan dianggap sepele dan biasa sembuh sendiri, makanya korban tidak dibawa berobat atau ke Puskesmas," kata Khairul, Jumat (21/12).

Khairul memberikan penjelasan kepada orang tua korban mengenai keadaan anaknya. Korban dianjurkan untuk ditangani oleh dokter spesialis di RSUD Ketapang. Orang tua korban mengerti dan meminta petugas kesehatan membuat surat rujukan dan pendamping perawat serta kendaraan ambulance. Sehari mendapatkan perawatan di rumah sakit atau pada 27 Oktober, korban akhirnya meninggal dunia.

Tim One Health yang terdiri Drh.Kezia Indahyu Aryanti, Subiantoro, dan Suharno melakukan investigasi kelokasi kejadian di mana korban pernah digigit anjing. Tim mewawancarai bibi korban, Sekadik.

Dia mengetahui jika korban pernah digigit anjing. Orang tua korban juga mengetahui hal itu, tapi kemungkinan orang tua korban lupa sehingga tidak membawa anaknya ke Puskesmas ataupun melaporkan kejadian tersebut ke kepala desa.

Diketahui, anjing yang menggigit korban masih berusia sekitar 1 bulan. Anjing tersebut juga belum diberikan vaksin anti rabies.

Sebelum menggigit korban, anjing tersebut diketahui oleh pihak keluarga pernah berkelahi dan digigit dengan anjing liar. Setelah menggigit korban, dua hari setelahnya anak anjing itu mati.

Penulis: Nur Imam Satria
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved