Tiba Hari Natal, MUI Kalbar Tegaskan Larangan Ucapkan Selamat Natal Bagi Umat Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat K.H. Basri Har menegaskan bahwa larangan mengucapkan Selamat Natal bagi umat Islam

Tiba Hari Natal, MUI Kalbar Tegaskan Larangan Ucapkan Selamat Natal Bagi Umat Islam
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DAVID NURFANTIO
Ketua Majelis MUI Kalbar, K.H. Basri Har (Tengah) bersama Ketua Bidang Ukhuwah MUI Kalbar, Muhammad Sani (Kiri), dan Ketua Sajadah Panjang, Munir HD (Kanan) saat press confrens, di Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Jumat (21/12/2018) sore.  

Gereja sebagai keseluruhan bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epifania, tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia.

Sesuai dengan anggapan ini, Gereja Timur merayakan pesta Epifania pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran dan pesta baptisan Yesus.

Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian.

Ephraim dari Syria menganggap Epifania sebagai pesta yang paling indah.

Ia katakan: “Malam perayaan Epifania ialah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, ketika seluruh dunia sedang berjaga jaga?”

Pada malam perayaan Epifania, semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga.

Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di gua Betlehem, tempat Yesus dilahirkan.

Perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di Aleksandria (Mesir).

Para teolog Mesir menunjuk tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada 19 atau 20 April.

Di tempat-tempat lain perayaan dilakukan pada tangal 5 atau 6 Januari; ada pula pada bulan Desember.

Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5.

Ada berbagai perayaan keagamaan dalam masyarakat non-Kristen pada bulan Desember.

Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti ("Surya yang tak terkalahkan"), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai berita Alkitab (lihat Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10). (*)

Penulis: David Nurfianto (DAP)
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved