Tiba Hari Natal, MUI Kalbar Tegaskan Larangan Ucapkan Selamat Natal Bagi Umat Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat K.H. Basri Har menegaskan bahwa larangan mengucapkan Selamat Natal bagi umat Islam

Tiba Hari Natal, MUI Kalbar Tegaskan Larangan Ucapkan Selamat Natal Bagi Umat Islam
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DAVID NURFANTIO
Ketua Majelis MUI Kalbar, K.H. Basri Har (Tengah) bersama Ketua Bidang Ukhuwah MUI Kalbar, Muhammad Sani (Kiri), dan Ketua Sajadah Panjang, Munir HD (Kanan) saat press confrens, di Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Jumat (21/12/2018) sore.  

Dalam Alkitab bahasa Indonesia sendiri tidak dijumpai kata "Natal", yang ada hanya kelahiran Yesus.

Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk dilakukan.

Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal.

Klemens dari Aleksandria mengejek orang-orang yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus.

Dalam abad-abad pertama, hidup kerohanian anggota-anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus.

Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya, terutama oleh Origenes, dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka.

Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.

Tetapi di sebelah Timur orang telah sejak dahulu memikirkan mukjizat pemunculan Allah dalam rupa manusia.

Menurut tulisan-tulisan lama suatu sekte Kristen di Mesir telah merayakan "pesta Epifania" (pesta Pemunculan Tuhan) pada tanggal 4 Januari.

Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifania ialah munculnya Yesus sebagai Anak Allah, yaitu pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan.

Halaman
1234
Penulis: David Nurfianto (DAP)
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved