Musnahkan 500 Liter Miras, Kajari: Home Industri Arak Merajalela di Sintang dan Melawi

Kalau tradisi, minuman alkohol ini hanya untuk saat pelaksanaan tradisi itu saja, hari itu saja.

Musnahkan 500 Liter Miras, Kajari: Home Industri Arak Merajalela di Sintang dan Melawi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ WAHIDIN
Kejaksaan Negeri (Kejari) Sintang bersama Polres Sintang dan Pengadilan Negeri Sintang melaksanakan pemusnahan barang bukti (BB) atas perkara kasus pupuk palsu, minuman beralkohol jenis arak, dan narkotika jenis sabu-sabu di TPA Nenak Lestari, Kecamatan Sintang, Rabu (12/12/2018) pagi. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG- Selain memusnahkan 350 karung pupuk palsu dan dua kilogram lebih sabu-sabu, Kejaksaan Negeri Sintang juga memusnahkan 500 liter minuman beralkohol jenis arak dari 11 perkara yang dikemas dalam 84 jerigen berbagai ukuran.

Kepala Kejaksaan Negeri Sintang, Syahnan Tanjung memimpin langsung kegiatan pemusnahan barang bukti tersebut yang dilaksanakan di TPA Nenak Lestari, Kecamatan Sintang, Rabu (12/12/2018) pagi.

Syahnan menyampaikan bahwa barang bukti (BB) tersebut merupakan perkara minuman beralkohol hasil sebagian penangkapan pihak kepolisian sepanjang tahun 2018 dari wilayah Kabupaten Sintang dan Kabupaten Melawi.

"Ini barang bukti dari dua kabupaten, Sintang dan Melawi, beberapa tersangkanya sudah kita hukum. Memang luar biasa pembuatan dan peredarannya, dan luar biasa dampaknya, sampai anak sendiri diperkosa," jelas Syahnan Tanjung.

Baca: Wagub Ria Norsan Ajak Masyarakat Hormati Hak-Hak Disabilitas

Baca: Dua Sejoli Bunuh Diri, Ini Pesan Ansor Sanggau

Maraknya peredaran arak di Kabupaten Sintang dan Melawi, menurutnya tidak terlepas dari banyaknya industri rumahan atau home industri pembuatan arak yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun.

"Sangat jelas menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Banyak yang akhirnya ketagihan, kemudian bermalas-malasan di warung, mabuk-mabukan, pulang-pulang aniaya istri, bahkan sampai perkosa anak," katanya.

Oleh karena itu, Syahnan tidak mentoleransi jika ada yang mengait-ngaitkan produksi minuman beralkohol tersebut dengan tradisi. Jika ditemukan industri rumahan yang memproduksi tindakan yang tepat adalan tindakan hukum.

"Kalau tradisi, minuman alkohol ini hanya untuk saat pelaksanaan tradisi itu saja, hari itu saja. Bukan malah diproduksi terus-menerus, itulah yang terjadi di Sintang dan Melawi. Home industri itu yang salah," pungkasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved