Imbas Penangkapan Bos Huawei Bagi Indonesia, Ekonom Samuel Jelaskan 2 Kemungkinan

Bos Huawei Meng Wanzhou ditangkap di Kanada atas permintaan dari pihak Amerika Serikat.

Imbas Penangkapan Bos Huawei Bagi Indonesia, Ekonom Samuel Jelaskan 2 Kemungkinan
straitstimes.com
Meng Wanzhou seorang petinggi Huawei ditangkap di Kanada karena permintaan Amerika Serikat, 1 Desember 2018 silam 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Bos Huawei Meng Wanzhou ditangkap di Kanada atas permintaan dari pihak Amerika Serikat.

Putri pendiri raksasa telkom China salah satu petinggi Huawei yang menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO) dan juga wakil ketua Huawei ditangkap di Vancouver pada 1 Desember 2018 silam.

Indonesia sebagai mitra utama dari China tentunya, dari penangkapan petinggi Huawei, Meng Wanzhou, akan memberikan dampak.

Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih mengatakan setidaknya, ada dua kemungkinan dampak dari penangkapan ini.

Lantaran ini berkaitan dengan kelanjutan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Dilansir dari detik finace, Lana mengatakan, penangkapan ini akan memberikan posisi tawar yang lebih kuat pada AS dalam perang dagang.

Sebab, penangkapan ini bisa menjadi senjata AS untuk membuktikan tuduhannya terkait pencurian teknologi.

Baca: Seminar Towards Zero Carbon, Alumni Institut Teknologi Bandung 88 Inisiasi ITB SDG Center

Baca: Kontroversi Berlanjut, Penampilan Loyo Jennie BLACKPINK Duduki Pencarian Nomor 1 di China

Baca: Putri Pendiri Huawei Ditangkap di Kanada Atas Permintaan Amerika Serikat, Ini Tuduhannya!

Baca: Huawei Nova 2i Resmi Diluncurkan, 4 Kameranya Luar Biasa!

"Artinya kesepakatan terjadi berarti ekonomi global nggak perlu turun. Ekonomi global masih bisa tumbuh baik, China itu mitra dagang Indonesia, untuk menjual komoditas. Dari sisi ekspor terbantu karena ekonomi tidak jadi melambat," terangnya.
"Jadi lebih menjadi menjustifikasi tuduhan Trump terhadap China dan menekan China untuk mau negosiasi sama AS. Itu menjadi posisi tawar AS yang lebih besar," ujarnya, Sabtu (8/12/2018).


Dengan posisi yang melemah, bisa saja China menerima permintaan AS dalam perang dagang. Artinya, perang mereda.

Bagi Indonesia, meredanya perang dagang memberi keuntungan karena ekonomi tidak jadi melambat. Apalagi, China merupakan mitra dagang utama Indonesia.

"Tapi, karena kasus ini mungkin Huawei akan sulit masuk pasar Kanada AS, jadi dia akan mencari pasar ya ke Asia di antaranya ke Indonesia," tambahnya.

Lana melanjutkan, jika China tetap melawan meski dalam posisi melemah maka ada dampak beruntun yang diterima Indonesia.

Dampaknya yakni, penurunan ekspor karena ekonomi China melambat, serta gempuran barang impor ke dalam negeri.

"Kita kena negatif baik impor ekspor, ekspor turun karena ekonomi China melambat, karena impor dia terhadap komoditas turun. Barang dia nggak banyak bisa banyak kejual AS ke kita juga, impor kita naik, dua-duanya jelek. Iya, serangan double, barang China mau jual ke mana dengan tarif tinggi ke AS," tutupnya.

Penulis: Madrosid
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved