Ini Sikap Yayasan Boedi Oetomo Terhadap Aksi Damai Warga Serdam Selaku Ahli Waris

Ketua Yayasan Boedi Oetomo Pontianak, Asnawi menegaskan dirinya akan segera berkoordinasi dengan para anggota Pengurus Yayasan Boedi Oetomo

Ini Sikap Yayasan Boedi Oetomo Terhadap Aksi Damai Warga Serdam Selaku Ahli Waris
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIZKY PRABOWO RAHINO
Masyarakat Sungai Raya Dalam, keluarga pemberi wakaf dan pihak Lembaga Imaduddin Sungai Raya Dalam menggelar aksi unjuk rasa damai kepada Yayasan Boedi Oetomo Pontianak di Komplek Bali Mas III Pontianak, Jalan Parit Haji Husin II, Jumat (7/12/2018) pukul 14:00 WIB. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Ketua Yayasan Boedi Oetomo Pontianak, Asnawi menegaskan dirinya akan segera berkoordinasi dengan para anggota Pengurus Yayasan Boedi Oetomo lainnya guna sikapi tuntutan sejumlah masyarakat Sungai Raya Dalam.

Keluarga pemberi wakaf dan pihak Lembaga Imaduddin Sungai Raya Dalam di Komplek Bali Mas III Pontianak, Jalan Parit Haji Husin II, Jumat (7/12/2018) pukul 14:00 WIB.

“Saya perlu bertemu dulu dengan kawan-kawan pengurus Yayasan. Kami juga akan mempersiapkan berkas-berkas yang sudah kami terima pada waktu awal-awal dari peneyrahan tanah wakaf itu tadi,” ungkapnya saat diwawancarai usai mediasi.

 Baca: Ahli Waris dan Lembaga Imanuddin Tuntut Yayasan Boedi Oetomo Pontianak, Ini Penyebabnya

Baca: Kuasa Hukum Nilai Tindakan Yayasan Boedi Oetomo Pontianak Terindikasi Melawan Hukum

Pihaknya akan menelusuri kembali jalan cerita sejak awal penyerahan. Ia mengakui dirinya belum bisa paparkan secara detail dari poin A hingga Z.

Sebab, dirinya menjabat sebagai Ketua Yayasan Boedi Oetomo Pontianak sekitar periode 2007-2008 hingga kini.

“Akan kami siapkan surat asli atau salinannya. Ada dengan istri dan anak almarhum Ketua Yayasan yang lama Pak Yaqim Noor di Jakarta. Yayasan ini berdiri sejak 1980-an,” terangnya.

Kendati demikian, pihaknya bertanya kenapa semasa hidup Almarhum H Sakke selaku pemilik tanah yang mewakafkan tidak pernah merasa keberatan lokasi tanah dimanfaatkan oleh yayasannya.

“Jika keberatan, Almarhum H Sakke saat itu tentu tidak akan datang ke sini. Menebang pohon-pohon dan bersedia menjual tanah 4x270 meter sebesar Rp 1 juta pada waktu itu,” katanya.

Jika ada yang pertanyakan masalah pembayaran sewa dan sebagainya, Asnawi menimpali mengapa sejak berpuluh-puluh tahun lalu tidak pernah digubris.

“Itu kan di luar dari kepengurusan dan tanggung jawab saya saat itu. Kalau ada pelayangan surat meminta masalah sewa terbengkalai dan tidak dibayar tentu  kawan-kawan pengurus yayasan akan rapat persoalan ini. Tapi kan tidak ada,” jelasnya.

Asnawi mengaku sekitar empat tahun lalu, ia didatangi beberapa perwakilan ahli waris yang menanyakan kenapa Yayasan Boedi Oetomo tidak mendirikan lembaga pendidikan agama, namun SMA dan SMK.

“Saya bilang bukan kami tidak mau mendirikan pendidikan agama. Kami pernah mendirikan Sanawiyah di sini. Tapi sampai tahun keempat, murid tinggal dua orang saat itu. Sanawiyah akhirnya kita bubarkan. Lalu kami dirikan SMA dan SMK. Alhamdulillah berjalan sampai saat ini,” paparnya.

Ia menambahkan pihaknya tidak cari kekayaan di sekolah ini. Pasalnya, siswa-siswi yang ada berasal dari kampung-kampung dan menjadi anak asuh. Terkadang, ada siswa-siswi yang menunggak iuran sekolah hingga tiga bulan. Namun, itu tidak jadi persoalan.

“Ini ada tiga gedung. Bangunan pertama di bangun pada 1986-1987 melalui usaha yayasan. Bangunan kedua, ada empat lokal bantuan dari Pemda Provinsi yang diperuntukan bagi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. Bangunan ketiga ada tiga lokal bantuan dari Ditjen Pendidikan Kejuruan. Kami juga tidak akan bersikeras bertahan di lokasi ini. Tapi kalau ujungnya angka kaki, kami minta silahkan hitung aset kami dan bayar kompensasinya,” tandasnya.

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved