Mirisnya Gaji Guru Honorer, Sekolah Hanya Bisa Bayar Lewat Dana BOS

Menurutnya sekolah tidak berani mengambil sumber pendanaan lain untuk menggaji guru honorer sekolah ini.

Mirisnya Gaji Guru Honorer, Sekolah Hanya Bisa Bayar Lewat Dana BOS
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ WAHIDIN
Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sintang, Lanton saat ditemui Tribun Pontianak di ruang kerjanya bertempat di SMP Negeri 2 Sintang, Rabu (28/11/2018) pagi. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG- Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menargetkan kenaikan gaji guru honorer di tahun depan, paling tidak para guru honorer dapat mengikuti kebijakan Upah Minimum Regional (UMR).

Terhadap wacana tersebut, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sintang, Lanton mengaku belum mendengarnya.

Namun dia berharap wacana tersebut bukan hanya sekedar wacana, tetapi benar secara serius direalisasikan.

Baca: Mayat Pria Ditemukan Terapung di Sungai Kapuas Sintang, Ini Dugaan Penyebab Kematiannya

Baca: Ketua Apdesi Sintang Angkat Bicara Persoalan PETI, Harap Pekerja Diajak Duduk Bersama

"Kita harapkan inu bukan hanya sekedar wacana, tetapi harus benar-benar terealisasi sehingga dapat meningkatkan motivasi para guru honorer sekolah atau guru tidak tetap (GTT) mengajar," katanya, Rabu (28/11/2018) siang.

Lanton menjelaskan bahwa guru honorer sekolah atau yang lebih tepatnya disebut guru tidak tetap ini memang dibayar dengan gaji yang sangat kecil. Sebab secara aturan hanya bisa dibayar lewat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Gaji mereka dianggarkan hanya 15 persen dari dana BOS. Kalau di sini, hitungan per jam mereka mengajar 20 ribuan, jadi sebulan gajinya hanya kisaran 500 sampai satu juta. Kita di sini ada enam guru honorer sekolah," jelasnya.

Menurutnya sekolah tidak berani mengambil sumber pendanaan lain untuk menggaji guru honorer sekolah ini. Sebab berdasarkan regulasi memang hanya melalui dana BOS, tidak bisa lewat komite sekolah dan lainnya.

"Kalau lewat komite, kami takut dibilang pungli. Tapi memang satu sisi gaji itu jumlahnya sangat tidak layak, makanya kita juga persilakan mereka cari kesibukan lain di luar jam mengajar. Bukan berarti mengurangi disiplin, tapi kita juga paham gaji seperti itu tidak cukup bagi kehidupan mereka," pungkasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved