Murid SD dan SMP Lemukutan Antusias Sambut Kedatangan Relawan Wajah Nusantara

Apalagi untuk SMP, nah untuk SMP ini hanya sebatas apa yang kami bisa,itu yang kami sampaikan ke mereka

Penulis: Anesh Viduka | Editor: Jamadin
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Volunteer (relawan) Wajah Nusantara mengadakan kelas inspirasi di Sekolah Satu Atap, SD Negeri 06 Pulau Lemukutan dan SMP Negeri 03 satu atap Pulau Lemukutan, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Senin (19/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Anesh Viduka

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Senin (9/11/2018) pagi  sekolah Satu Atap Pulau Lemukutan tampak ramai, siswa-siswi SD maupun SMP antusias menyambut kehadiran 24 volunteer (relawan) muda dari Wajah Nusantara.

Dalam program yang bertajuk Ekspedisi Wajah Nusantara ini mereka membuat beragam perlombaan dan mengadakan kelas inspirasi, yangmana siswa-siswi diajari tentang seni, saling berbagi pengalaman dan memberikan motivasi kepada siswa-siswi di Sekolah Satu Atap (satap) SD Negeri 06 Pulau Lemukutan dan SMP Negeri 03 Satap Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.

Mereka didampingi oleh 5 orang guru. Satu di antara guru Sekolah Satap Pulau Lemukutan, Tarmizi, S.Pd.Sd mewakili para dewan guru menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada relawan Wajah Nusantara karena telah berkesempatan membuat kegiatan di Sekolah mereka.

Baca: Gas Elpiji di Siantan Sempat Langka, Ini Penyebabnya 

"Karena anak-anak kami inikan wawasannya hanya sekitar lingkungan pulau ini aja, dengan adanya kunjungan ini otomatis membuka wawasan anak-anak, jadi saling berbagi informasi, yangmana anak-anak sini kalau selesai sekolah ya selesai, paling yang dihadapi lautan, barat lautan, timur lautan, selatan dan utara lautan, jadi tidak berkembang, ya hari-hari pikirannya laut aja,gimana mereka bisa kerja dan dapat duit aja tapi dengan kerja keras dengan tenaga, sekarangkan kita udah zamannya tekhnologi, bagaimana menggunakan teknologi untuk memudahkan mencari ekonomi," kata Tarmizi, S.Pd.Sd, di Sekolah Satap Pulau Lemukutan, Seni (19/11/2018).

Ia menyampaikan untuk sarana dan prasarana penunjang aktivitas belajar mengajar Ia akui masih banyak kekurangan, disamping itu juga tenaga pendidik juga kurang, khususnya tenaga-tenaga ahli.

"Apalagi untuk SMP, nah untuk SMP ini hanya sebatas apa yang kami bisa,itu yang kami sampaikan ke mereka," jelas guru yang sudah 26 tahun mengajar di Lemukutan.

SDN 06 saat ini tercatat ada 5 orang guru berstatus PNS dan satu orang Kepala Sekolah,dan untuk SMP hanya ada 3 orang guru honorer.

Baca: Gedung SKIPM Pontianak Diresmikan, Polda Kalbar Harap Kerjasama Semakin Kuat

Siswa-siswi SDN 06 Lemukutan berjumlah 172, yang terbagi dalam kelas I berjumlah 37 siswa, kelas II berjumlah 29, kelas III berjumlah 24, kelas IV berjumlah 32, kelas V ada 24 siswa dan kelas VI ada 26 siswa.

Kemudian siswa SMPN 03 yang kelas VII berjumlah 24 siswa, kelas VIII berjumlah 21, dan kelas IX berjumlah 19 siswa.

"Jadi satu guru ngajar full," Ujarnya.

Ia mengaku tak jarang kelas kosong ditinggal gurunya, lanataran para guru harus menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan sekolah mereka ke Kabupaten yang berada di seberang pulau.

"Kita karena berurusannya ke darat (seberang pulau) jadi kadang-kadang kalau dua orang nya ke darat ya dua kelas kosong ga ada gurunya, ya kita rolling aja, mana yang hadir itu yang ngisi, cuma kita minta sama guru yang bersangkutan tolong tinggalkan tugas nanti kami sampaikan ke anak-anak," jalas Tarmizi.

Ia mengatakan pihak sekolah juga sudah mensosialisasikan kepada orang tua murid dan masyarakat bahwa ini pendidikan bukan lagi memaksa, nenjejalkan ilmu lagi kepada anak-anak tapi bagaimana merubah mindset anak-anak itu berpikir.

Baca: Buka Lomba Pidato Hari Anti Korupsi Internasional, Ini Pesan Wali Kota Edi Kamtono pada Pelajar

"Kalau dulukan kita memasukan ilmu kepada anak-anak, tapi sekarang ni mencari, apa sih yang diperlunya kedepan, teknologikan semakin berkembang, ini ndak tau keperluan nya ke depan, jadi sekarang ni pendidikan karakter ni pada dasarnya membentuk sikap, mental anak-anak itu menghadapi teknologi global, cuma mau menbentuknya ini kami terbatas, Internet terbatas, sinyal terbatas, sekarangkan sudah bersifat online semua, ya agak kesulitan kita," Jelas pria yang selalu memakai kopiah tersebut.

Kemudian di Sekolah Satap Lemukutan tidak memliki komputer untuk anak-anak belajar, jadi diakui Tarmizi anak-anak disana untuk pengetahuan tentang komputer memang jauh ketinggalan.

"Mudah-mudahan kedepannya teknologi informasi seperti internet, sinyal komunikasi bisa masuk kedaerah terpencil seperti ini, kalau di kota tu anak-anak sudah biasa main komputer, beda dengan anak-anak kami disini," Ujarnya.

Ia sangat berharap dengan kedatangan teman-teman dari wajah nusantara ini bisa merubah pola pikir mereka, pendidikan itu apa sih sebenarnya, kalau udah selesai sekolah apa yang harus dilakukan.

"Biar setelah selesai sekolah ndak hanya pegang pancing, karena pegang pacing yang ndak sekolah pun bisa," Katanya.

Menurut Tarmizi untuk masalah sosial anak-anak didik mereka sudah bagus, karena tidak ada pengaruh negatif yang datang dari luar, cuma pola pikir mereka yang belum berkembang.

"Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan sekolah kami, terutama tenaga-tenaga ahli misalnya, kami ni orang-orang lama semua yang kurang paham dengan IT, kami berharap nanti pemerintah bisa mengirim tenaga-tenaga ahli terutama IT sehingga anak didik di desa dan kota itu bisa sejajar, dan anak-anak kami bisa berkembang," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved