BTN Cabang Pontianak Sebut Pengembangan Perumahan Bersubsidi Terkendala Hal Ini

"Secara umumnya, semua punya hak yang sama untuk mendapatkan subsisi bantuan uang muka (SBUM)," pungkasnya.

BTN Cabang Pontianak Sebut Pengembangan Perumahan Bersubsidi Terkendala Hal Ini
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ DAVID NURFIANTO
Kepala Bank BTN Cabang Pontianak, Dudi saat ditemui Tribun di Warunk UpNormal, Jalan Gajah Mada Pontianak Selatan, Rabu (14/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak David Nurfianto

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Bank BTN Cabang Pontianak, Dudi mengatakan pengembangan perumahan bersubsidi di wilayah Kalbar terkendala oleh tingginya harga jual lahan.

"Pengembang dipaksa memutar otak mencari lahan murah demi menekan biaya produksi rumah, pengembangan perumahan bersubsidi ini secara umum kendalanya penyediaan lahan murah," ujarnya kepada Tribun di Warunk UpNormal, Jalan Gajah Mada Pontianak Selatan, Rabu (14/11/2018).

Baca: Sempat Surut, BPBD Ketapang Imbau Warga Kecamatan Sungai Laur Tetap Waspada

Baca: Edi Kamtono Perintahkan Tinjau Ulang Perizinan Beberapa Penginapan Sekelas Hotel

Dudi menjelaskan terkait harga jual perumahan subsidi itu ditentukan, dimana harga jualnya sudah dipatok oleh pemerintah kemudian pengembang sebagai pelaku usaha mencari harga pokok penjualan (HPP) yang mendapatkan keuntungan sehingga harus menekan biaya.

"Untuk menekan biaya ini komponen paling besar adalah lahan dan bangunan,” tegasnya.

Ia menuturkan setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan harga rumah, Selain itu, lokasi pembangunannya pun semakin jauh dari pusat kota, contohnya pembangunan perumahan di salah satu kawasan yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak yakni Desa Pal 9, Kecamatan Sungai Kakap, serta Desa Kapur Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

“Rumah itu dari tahun ke tahun harganya tidak pernah turun, semakin tahun juga semakin jauh dari pusat kota Pontianak, Kalau dulu di Pal 5 sekarang developer itu membangun dari Pal 9 sampai Pal 13, Nah, ini semakin bertambah ke sana lagi nantinya,” terangnya.

Tambahnya, lokasi perumahan yang banyak diminati saat ini ialah di Desa Kapur dan Sungai Raya Dalam, hal itu disebabkan oleh ketersediaan lahan dan harga tanah yang relatif terjangkau.

“Saat ini yang ramai dikembangkan itu di Serdam dan Desa Kapur, Ini yang favorit untuk orang-orang karena harga tanahnya masih murah,” ucapnya.

Dudi mengungkapkan sepanjang tahun 2018 dari 5.665 unit KPR bersubsidi yang ditargetkan telah terealisasi sebanyak 5.331 unit, terdapat 334 unit yang belum terealisasi dan optimis hal itu bisa tercapai bahkan terlampaui pada penghujung tahun.

“Target KPR subsidi sebanyak 5.665 unit telah di realisasikan 5.331 unit, masih ada kekurangan 300-an unit tetapi kami optimis akan terlampaui karena rata-rata penyaluran per bulan di atas 500 unit,” jelasnya.

Dudi menghimbau masyarakat yang memerlukan KPR bersubsidi untuk segera mengajukan permohonan, diamana masih tersisa waktu hingga tanggal 7 Desember untuk akad kredit skema subsidi selisih bunga (SSB), Sementara KPR subsidi skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), masih tersisa waktu hingga 21 Desember untuk akad kredit.

“Silakan masyarakat yang memerlukan KPR subsidi masih bisa akad kredit kalau yang SSB itu bisa sampai tanggal 7 Desember, Sedangkan yang FLPP bisa sampai 21 Desember, Ini barangkali kesempatan emas bagi masyarakat yang belum punya rumah,” tutupnya

Ia juga menegaskan Secara umum tidak di dipisahkan antara PNS, TNI-Polri, dan masyarakat umum.

"Secara umumnya, semua punya hak yang sama untuk mendapatkan subsisi bantuan uang muka (SBUM)," pungkasnya.

Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved