Akui Passing Grade Jadi Keluhan Peserta Seleksi CPNS, Ini Kata Kadisdikbud Kalbar

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Suprianus Herman tidak menampik masalah passing grade atau nilai ambang batas minimal

Akui Passing Grade Jadi Keluhan Peserta Seleksi CPNS, Ini Kata Kadisdikbud Kalbar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ANESH VIDUKA
Ratusan peserta tes CPNS Pemkot Pontianak mengikuti pengarahan terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan tes, di gedung Politeknik Tonggak Equator (Polteq), Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (30/10/2018) siang. Tes CPNS di lingkungan pemerintah kota Pontianak berlangsung sejak 29 Oktober sampai 6 November 2018. Total peserta CPNS kota Pontianak yang lulus administrasi berjumlah 4.534. TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Suprianus Herman tidak menampik masalah passing grade atau nilai ambang batas minimal seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun 2018 menjadi keluhan sejumlah Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota di Kalimantan Barat.

“Informasinya memang ada beberapa daerah yang tingkat lulus passing grade-nya rendah dan sedikit. Tapi, ada juga beberapa peserta yang lulus passing grade,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia menimpali bahwa beberapa daerah masih ada yang melaksanakan tes Seleksi Kemampuan Dasar (SKD) melalui Computer Assisted Test (CAT).

Baca: Kubu Raya Satu-satunya Kabupaten di Kalbar Yang Dapat Anugerah Parahita Ekapraya 2018

Terhadap permasalahan yang dihadapi terkait passing grade, tentunya akan ada kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat.

“Tes belum selesai semua, masih ada daerah yang melaksanakan. Pastinya nanti ada langkah diambil oleh Kemenpan RB dan BKN,” terangnya.

Suprianus menambahkan penetapan passing grade yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat bertujuan untuk mencari Pegawai Negeri Sipil (PNS) berkualitas.

“Jadi yang benar-benar berkualitas dan mampu jadi CPNS. Ada keluhan dari peserta soal-soalnya sulit. Saya akui memang sekarang ini model soal-soal itu menuntut daya nalar tinggi. Sampai pada tahapan seseorang untuk menganalisis suatu hal. Kondisi itu yang juga saya alami ketika ikut menyusun soal-soal bagi pelajar berdasarkan Kurikulum 2013 atau K13,” pungkasnya.

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved