Wabup Effendi Ajak Masyatakat Budayakan Busana Melayu
Acara mandi safar yang dilaksanakan Desa Telok Melano bekerjasama dengan Kecamatan Simpang Hilir dan Dinas Pendidikan.
Penulis: Faiz Iqbal Maulid | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Adelbertus Cahyono
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA - Wakil Bupati Kayong Utara, Effendi Ahmad mengajak masyarakat untuk kembali membudayakan penggunaan busana melayu dalam setiap kegiatan.
Hal ini disampaikannya pada perayaan Mandi Safar di Desa Telok Melano, Kecamatan Simpang Hilir, Rabu (7/11/2018).
Baca: Pantau SKD CPNS, Ini Kata Sekda Kayong Utara
Baca: 300 CPNS Ikuti SKD Hari Pertama di Kayong Utara
“Mari kita membudayakan kembali memakai baju melayu dalam setiap kegiatan, kita dapat memulainya ketika ada acara perkawinan di dalam keluarga dan acara lainnya,” kata Effendi dalama keterangan pers yang diterima Tribun dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kayong Utara.
Acara mandi safar yang dilaksanakan Desa Telok Melano bekerjasama dengan Kecamatan Simpang Hilir dan Dinas Pendidikan.
Pagelaran budaya itu juga dihadiri Kapolres Kayong Utara AKBP Asep Irpan Rosadi, Anggota DPRD Kayong Utara, Kepala OPD, serta masyarakat Kecamatan Simpang Hilir.
Effendi Ahmad hadir mengenakan busana melayu bernuansa hijau, begitu juga Kapolres Kayong Utara yang menggunakan baju dinas dengan dilengkapi memakai tanjak dan kain khas melayu.
Acara dimulai dengan mendengarkan lantunan ayat suci alquran dan pembacaan shalawat, kemudian mendengarkan Tausiah yang lansung disampaikan wakil Bupati.
Effendi Ahmad dalam sambutannya mengajak masyatakat untuk senantiasa melestarikan budaya serta berserah diri kepada Tuhan.
“Hari Rabu minggu terakhir di bulan Safar menjadi hari yang penting dalam tradisi Mandi Safar,” jelas Effendi.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara, Jumadi Gading menuturkan, kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi masyarakat utuk mempererat rasa persatuan guna melestarikan budaya.
“Di dalam ritual mandi safar ini, biasanya masyarakat menggantungkan daun andung yang telah ditulis ayat alquran yang kemudian diikat di hulu air yang mengalir, barulah mereka mandi,” tutur Jumadi.
Terkait keinginan Wakil Bupati melestarikan pemakaian baju melayu menurut Jumadi, Bidang Kebudayaan telah menyusun Raperda Pelestarian Kesenian dan Budaya Daerah yang mana di dalamnya telah mengakomodir hal tersebut.
"Semoga Raperda ini, tahun depan dapat diketok palu DPRD, sehingga penggunaan baju melayu dapat dilestarikan terutama pada hari kerja di Pemkab Kayong Utara,” timpalnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/mandi-safar_20181107_173505.jpg)