Ini Yang Dilakukan Pemerintah, Cegah Aktivitas Ilegal Pencarian Fosil Situs Sangiran
Peserta Tribun Editor Development Program (TEDP) Bath V 2018, mengunjungi Situs Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Sragen
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SRAGEN - Peserta Tribun Editor Development Program (TEDP) Bath V 2018, mengunjungi Situs Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (1/11/2018).
Situs seluas 59,2 kilometer persegi ini, dilengkapi museum sebagai lokasi memamerkan hasil temuan berupa fosil manusia purba maupun fosil binatang.
Sesampaikan dilokasi, peserta TEDP disambut oleh, Kepala Seksi Pemanfaatan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Iwan Setiawan Bimas diaula sambil mempresentasikan secara singkat mengenai Situs Sangiran yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Budaya Warisan Dunia 1996.
Baca: Rusman Ali Ingatkan Perbakin Harus Jadi Wadah Olahraga Untuk Prestasi
Sekitar 100 ribu, masyarakat tinggal dikawasan tersebut Pemerintah disebutnya memberdayakan masyarakat sekitar dengan berbagai cara mulai dari mengangkat sebagai honerer hingga masuk dalam tim penelitian atau pencarian fosil.
"Pengelolaan situs ini, kalau tentu melibatkan masyarakat sekitar. Bagaimana agar Situs Sangiran ini tetap berlanjut dan terjaga," ucap Iwan Setiawan saat memberikan penjelasan pada peserta TEDP 2018.
Situs Sangiran menjadi titik awal kejelasan penelitian mengenai manusia purba, lantaran ditemukan fosil manusia purba yang disebut S17 secara lengkap.
"Ini menjadi acuan bagi para peneliti merekonstruksi wajah homo erektus," jelasnya.
Sebelumnya, memang sudah ditemukan lebih 100 individu manusia purba, tapi yang lengkap baru dari Sangiran 17.
Banyak peneliti luar melakukan studi di Situs Sangiran ini, kalau bahkan penduduk setempat juga sering berantraksi dengan mereka.
Menghindari adanya aktivitas ilegal pencarian barang purba pada lokasi Situs Sangiran, pemerintah memberikan kompensasi pada masyarakat yang menemukan fosil sesuai dengan ketentuan yang ada.
"Kami mengimbau kalau masyarakat menemukan fosil, agar menyerahkan temuan pada museum. Mengajak masyarakat meneliti bersama," katanya.
Satu diantara peserta TEDP 2018 dari Tribun Wow, Lala menyampaikan setelah ia mendapatkan penjelasan dan berkeliling Museum Sangiran melihat fosil masih banyak celah yang harus diteliti para pakar dalam mengungkap kehidupan manusia purba ini.
"Museumnya bagus, lengkap dengan keterangannya. Tempat ini snagat boleh dikunjungi, selain untuk refreshing juga tempat belajar mengenai sejarah manusia purba," pungkasnya.