Kepala BPJS: Tidak Mungkin Seorang Pasien Dirujuk Ke Faskes Yang Tak Mampu Menangani

Kepala BPJS Cabang Kota Singkawang, Novi Kurniadi menyebut bahwa sistem rujukan sebenarnya kalau dikatakan berpindah-pindah

Kepala BPJS: Tidak Mungkin Seorang Pasien Dirujuk Ke Faskes Yang Tak Mampu Menangani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Kepala BPJS Cabang Kota Singkawang, Novi Kurniadi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Kepala BPJS Cabang Kota Singkawang, Novi Kurniadi menyebut bahwa sistem rujukan sebenarnya kalau dikatakan berpindah-pindah itu tidak juga.

Rujukan berjenjang yang saat ini diterapkan mengacu kepada Permenkes yang berlaku di mana apabila pasien yang berobat di suatu fasilitas kesehatan (Faskes) tidak dapat ditangani di Faskes tersebut, maka sesuai indikasi medis akan dirujuk ke Faskes lain atau rumah sakit (RS) yang mampu/ memiliki kompetensi menangani penyakit pasien tersebut.

"Tidak mungkin seorang pasien dirujuk ke Faskes yang tidak mampu menanganinya," katanya, Minggu (28/10/2018).

Dengan diterapkannya rujukan berjenjang online ini, justru memberikan kepastian pasien akan dirujuk ke RS yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasien.

Baca: Liga 1: Mitra Kukar Vs PSIS Semarang, Rahmad Darmawan Waspada, Jafri Sastra Canggung

Dimana sebelum diterapkan rujukan berjenjang online, kadang-kadang ketika pasien dirujuk ke RS, ternyata dokternya tidak praktik atau dokter sudah tidak di tempat.

"Dengan rujukan berjenjang online akan meminimalisir bahkan menghilangkan kejadian seperti itu," jelas Novi.

Prinsip yang digunakan dalam rujukan berjenjang online tetap mengutamakan kebutuhan pasien. Dalam kondisi penyakit khusus atau gawat darurat, pasien tetap dapat berobat di RS manapun tanpa rujukan.

Penanganan pasien dengan rujukan berjenjang diawali dari Faskes tingkat pertama di antaranya Puskesmas, Klinik, dan dokter perorangan.

Apabila memerlukan rujukan, maka pasien dirujuk ke RS kelas D atau C yang memiliki kompetensi terhadap penanganan penyakit pasien.

Apabila di RS kelas D dan C tidak memiliki dokter sesuai kebutuhan pasien, maka dapat dirujuk langsung ke RS tipe B atau A.

Sementara untuk pasien kronis dengan kondisi telah stabil dapat mengikuti Program Rujuk Balik (PRB), dimana dokter RS yang menangani pasien akan memberikan surat rujukan balik ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempat pasien terdaftar.

Selanjutnya dokter di FKTP akan meresepkan obat kronis dan obat dapat langsung di ambil di apotek yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Untuk persoalan rekam medik yang penting untuk penanganan pasien, akan dilakukan
mapping (pemetaan) kasus per kasus, yang tetap mendapat layanan di kelas B atau A yang memang kompetensinya (kondisi khusus) akan tetap dapat langsung ke RS tipe B atau A.

"Yang lainnya akan dilakukan dengan metode rujuk balik ke RS kelas C atau D," bebernya.

Masa uji coba penerapan rujukan online sampai dengan akhir bulan oktober ini. Terhadap permasalahan-permasalah dan kendala seperti masalah rekam medik ini dan permasalahan lainnya akan dievaluasi dan diperbaiki bekerjasama dengan RS, Dinkes dan Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya TKMKB.

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved