Biaya Penanganan Sampah Kota Pontianak Rp35 Miliar Pertahun, Tinorma Buat Inovasi Untuk Efisisiensi

Pertahun setidaknya Pemkot Pontianak harus mengeluarkan biaya Rp35 miliar untuk pengelolaan sampah mulai dari perawatan armada

Biaya Penanganan Sampah Kota Pontianak Rp35 Miliar Pertahun, Tinorma Buat Inovasi Untuk Efisisiensi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Kepala DLH Kota Pontianak, Tinorma Butar-butar. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pertahun setidaknya Pemkot Pontianak harus mengeluarkan biaya Rp35 miliar untuk pengelolaan sampah mulai dari perawatan armada, hingga gaji untuk para buruh harian lepas yang bertugas membersihkan sampah.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Tinorma Butar-butar saat melakukan launching inovasi
Sistem Strategi Peningkatan Kinerja Pengangkutan Sampah (Siperkasa) Global Positioning System (GPS). Aplikasi berbasis GPS di Ruang Rapat Wali Kota Pontianak, Kamis (18/10/2018).

Baca: CURHAT! Nagita Slavina Beberkan Raffi Ahmad Berubah Setelah Menikah

Baiya pengelolaan sampah memang cukup besar dan membuat DLH harus membuat terobosan-terobosan dalam menyikapi dan mengefisienkan tenaga maupun biaya sehingga dapat mengurangi biaya dan memberikan kinerja maksimal. Antara retribusi sampah dengan biaya uang harus dikeluarkan tidaklah sebanding. Timorma sampaikan biaya yang dikeluarkan Rp35 miliar sedangkn retribusi dari sampah hanya Rp17 miliar.

"Retribusi dari sampah itu hanya Rp17 miliar yang dipungut dari masyarakat melalui PDAM. Memang setiap membayar PDAM masyarakat dikenakan retribusi sampah. Sedangkan penangannya dalam setahun sekitar Rp35 miliar, jadi sekitar 50 persennya saja," ucap Tinorma Butar-butar.

Saat ini tenaga PHL yang dimiliki DLH sebanyak 649 orang dan tahun 2019 akan ditambah sebanyak 31 orang. Sedangkan tenaga pengawasan dari ASN terbatas karena memang Pontianak kekurangan ASN. Oleh sebab itulah pihaknya melakukan inovasi dengan memasang GPS pada kendaraan angkutan sehingga dapat memaksimalkan fungsi pengawasan terhadap angkutan sampah dengan ASN yang kurang ini.

"Keberadaan aplikasi ini, kita harapkan membantu dan memudahkan kita. Dinas Lingkungan Hidup memang terbatas ASN-nya untuk pengawasan di lapangan," ucap Tinorma.

Kelebihan aplikasi yang baru saja dilaunchingnya ini bisa memantau dari mana saja kondisi armada, jarak dan data sopir armada juga ada.

Apabila dalam kondisi darurat, mereka bisa langsung menekan tombol panik yang langsung terhubung ke sentral di DLH. Apakah kendaraan mengalami mogok, atau terjebak kemacetan maupun kecelakaan lalu lintas.

Aplikasi yang diluncurkan ini merupakan hasil inovasi dirinya kala mengikuti Diklatpim II. Aplikasi ini berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap angkutan sampah yang terkoneksi ke perangkat pintar seperti smartphone, laptop dan lainnya sehingga meskipun berada di mana bisa tetap memonitor keberadaan armada sampah.

Saat ini, kata Tinorma, jenis armada yang dimiliki DLH Kota Pontianak diantaranya dumptruck, fuso, amrol, pickup dan tossa, dengan jumlah keseluruhannya sebanyak 58 armada.

Sedangkan armada yang sudah terpasang GPS berjumlah 20 armada, terdiri dari tossa 3 unit, pickup 2 unit, fuso 2 unit, amrol 7 unit dan dumptruck 6 unit. “Sisanya akan dipasang pada tahun depan bersumber dari APBD 2019,” ujarnya.

Biaya dalam memasang perangkat GPS oada setiap mobil disebutnya Rp3 jutaan, saat ini memang baru 20 kendaraan yang terpasang tapi 2019 akan seluruhnya.

Penulis: Syahroni
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved