Masyarakat Indonesia Keluhkan Cuaca Semakin Panas, BMKG Beberkan Data

Panas terik tak hanya terjadi di kota-kota besar di Jawa tetapi di seluruh wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa

Masyarakat Indonesia Keluhkan Cuaca Semakin Panas, BMKG Beberkan Data
ISTIMEWA
Pantauan BMKG dan beberapa lembaga internasional terhadap kondisi Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, mengindikasikan bahwa hingga awal April 2018 ini, kondisi La Nina kategori lemah sudah berakhir, menuju kondisi normalnya pada bulan Mei hingga September 2018 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Panas terik tak hanya terjadi di kota-kota besar di Jawa tetapi di seluruh wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberkan datanya.

Berdasarkan pemantauan BMKG di 20 stasiun cuaca dan iklim, suhu di berbagai wilayah Indonesia berkisar antara 34 hingga 37,5 derajat Celsius.

Menurut data BMKG tersebut, tampak bahwa suhu di wilayah selatan khatulistiwa tinggi. Misalnya dari pantauan Stasiun Meteorologi Jatiwangi di Majalengka, suhu mencapai 37,4 derajat Celsius.

Baca: Rilis Tangkapan Pil Ekstasi Yang Dikendalikan Napi, Kapolda Kalbar Sebut Miliki Kualitas Terbaik

Baca: Mengerikan, Suhu Panas India Renggut Ribuan Jiwa dan Aspal Jalan Meleleh

Sementara itu, di stasiun meteorologi Gewayantana, Nusa Tenggara, suhu mencapai 35,2 derajat Celsius. Di Jakarta sendiri menurut pantauan stasiun meteorologi Kemayoran, suhunya 34,2 derajat Celsius.

Meski banyak orang di media sosial mengeluhkan panas luar biasa, dalam pantauan BMKG panas yang dirasakan masih normal.

"Masih dalam kisaran normal suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan data klimatologis 30 tahun," kata Hary Djatmiko, Kepala Humas BMKG, Senin (9/10/2018).

Hary menerangkan, panas yang dirasakan sebenarnya umum terjadi pada masa pancaroba. Saat ini, Indonesia tengah memasuki awal musim hujan di mana pengumpulan awan hujan sedang aktif.

Panas yang dirasakan sendiri terjadi karena pengaruh dua faktor, yakni posisi matahari dan kelembaban udara. Saat ini, posisi Matahari sedang berada di atas Indonesia sehingga radiasi panasnya lebih banyak diterima.

Aliran massa udara dingin dan kering dari Australia membuat kelembaban udara rendah, kurang dari 60 persen pada ketinggian 3-5 km dari permukaan.

Jadi, panas, gerah, dan terik yang dirasakan bukan hanya faktor suhu semata tetapi juga soal posisi matahari dan kelembaban udara.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Seluruh Belahan Selatan Indonesia Panas, BMKG Beberkan Datanya

Editor: Madrosid
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved