Henni: Pontianak Belum Ramah Terhadap Anak Korban Virus Rubella

untuk kondisi lain seperti gangguan dengar dan katarak yang juga akibat dari virus rubella, mestinya tidak ditempatkan di SLB.

Henni: Pontianak Belum Ramah Terhadap Anak Korban Virus Rubella
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / BELLA
Henni Febrianti bersama putrinya 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Meskipun telah memiliki komunitas tempat saling support dan saling berbagi, namun menurut Henni Febrianti, Koordinator Rumah Ramah Rubella di Pontianak, lingkungan di Pontianak masih belum bisa dikatakan Ramah terhadap para anak korban virus rubella.

"Masih cuek, support belum terlalu nampak, masih biasa aja," katanya ibu dari Amira, bocah yang mengalami gangguan dengar akibat terpapar virus rubella itu.

Baca: Sedang Berlangsung, LIVE STREAMING Arema FC vs Persebaya: Skor Masih 1-0, Nonton Di Sini

Ia berharap agar pemerintah memperhatikan sarana kebutuhan terapi, bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus akibat terkenal virus rubella saat di dalam kandungan.

Karena selama ini, untuk melakukan tindakan medis dan terapi kepada Amira, ia harus bolak-balik bahkan sempat tinggal di Surabaya.

Baca: Dua Hari Bergabung dengan Masyarakat di Serawai, Ini Yang Dilakukan Tim Trabas Polres Sintang

Selain fasilitas terapi, yang tidak kalah penting ialah sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus.

"Kitakan tergolong anak berkebutuhan khusus ya, untuk cari sekolah itu susah," ungkapnya.

Selama ini, khususnya di Pontianak rata-rata anak yang berkebutuhan khusus akibat virus rubella, ujung-ujungnya masuk Sekolah Luar Biasa (SLB), meskipun mereka tidak mengalami gangguan otak.

Padahal, untuk kondisi lain seperti gangguan dengar dan katarak yang juga akibat dari virus rubella, mestinya tidak ditempatkan di SLB.

Baca: Tim Basket Kalbar Maksimalkan Uji Coba Jelang Kejurnas

Sedangkan kepada masyarakat sekitar, Henni berharap agar anak-anak yang berkebutuhan khusus akibat sang ibu terpapar virus rubella saat hamil, dapat diberlakukan dengan baik, tidak dianggap aneh apalagi dijauhi.

Karena mereka justru korban, dan tidak berpotensi menularkan kepada orang lain, justru yang membuat virus ini menyebar apabila tidak terbentuk kekebalan kelompok akibat rendahnya capaian imunisasi.

Penulis: Bella
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved