Smartwomen

Memilih Menjadi Pribadi Bervisi dan Kontribusi Besar Bagi Sesama

Menjadi perempuan adalah takdir. Tapi menjadi pribadi luar bias, adalah keputusan yang diambil oleh Mutiara Intan Permatasari (28)

Memilih Menjadi Pribadi Bervisi dan Kontribusi Besar Bagi Sesama
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Akademisi IAIN Pontianak, Mutiara Intan Permatasari. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak , Ishak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjadi perempuan adalah takdir. Tapi menjadi pribadi luar bias, adalah keputusan yang diambil oleh Mutiara Intan Permatasari (28)

Wanita yang juga akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak ini, memilih menjadi perempuan tangguh dengan visi, gagasan dan kontribusi besar bagi sesama.

"Jangan pernah bercita-cita jadi biasa. Kalau bisa melakukan hal yang extraordinary dan lebih banyak menebarkan kebaikan kenapa tidak?," ujarnya, Selasa (02/10/2018).

Baca: Jadi Official Partner Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia, Telkomsel Hadirkan Digital Tourism

Ia menjelaskan, ada banyak alasan kenapa seorang perempuan harus punya visi besar sekaligus kontribusi besar. Hal tersebut, menurutnya, jadi hal penting dan signifikan bagi seorang perempuan.

"Ibu saya seringkali mengingatkan bahwa 'ibu' adalah sekolah pertama bagi 'anak-anaknya'. Jadi menurut saya sangat penting seorang wanita memiliki visi dan misi dalam keilmuan, agar sasarannya lebih jelas dan terukur," sambungnya.

Dengan banyaknya wanita yang semakin sadar dan memahami ruh belajar dalam proses akademis baik formal maupun tidak, menurutnya, tentu akan memengaruhi keseharian mereka.  Mulai dari keluarga dulu, kemudian ke masyarakat dengan skala yang lebih besar.

Keyakinan dan prinsip inipun dimanfestasikannya dalam setiap peran yang digelutinya. Baik sebagai dosen di kampus, sebagai pegiat sosial di AIMI Kalbar, keluarga duta bahasa Jawa Barat dan sebagainya.

Perannya sebagai tenaga pendidik bahkan punya nilai tersendiri baginya. Disebutnya sebagai cita-cita sejak lama, menjadi dosen juga adalah bentuk nyata perwujudan belajar tanpa batas sepanjang hayat.

"Buat saya, hidup adalah proses belajar. Makanya ada istilah "long life learner". Rasanya menyenangkan mengajar sekaligus belajar ketika suasana kelas dibangun dengan kongruen," ungkapnya.

Iapun lantas tak mau sekadar menjadi akademisi biasa. Menjadi akademisi, berarti pula meningkatnya tanggungjawab  berapa belas kuadrat.

"Karena ketika memutuskan menjadi seorang akademisi, artinya saya sudah siap menceburkan diri ke dalam pahit manisnya dunia pendidikan. Yang harus dipahami adalah, kita tidak boleh hanya sekedar melaksanakan proses knowledge transfer, tapi juga mengarahkan, membimbing, serta membangun peserta didik untuk berpikiran lebih kritis jadi mereka gak menelan semua informasi mentah-mentah, mereka akan iqro, menggali dan menggali lagi lebih komprehensif," timpalnya.

Penulis: Ishak
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved