Masih Berstatus KLB, Tercatat Dua Orang Meninggal di Sintang Akibat Rabies Tahun Ini

Tapi kalau untuk vaksin rabies, ditegaskannya bahwa itu tidak perlu dikhawatirkan lagi. Karena stok yang ada cukup banyak.

Masih Berstatus KLB, Tercatat Dua Orang Meninggal di Sintang Akibat Rabies Tahun Ini
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/WAHIDIN
Kepala Dinas Kesehatan Sintang Harysinto Linoh 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG- Sejak ditetapkannya Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies di Sintang pada 2016 lalu, hingga kini status tersebut belum dicabut, hal itu dikarenakan masih adanya temuan gigitan hewan yang tertular virus tersebut.

Dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sintang, Harysinto Linoh bahwa pada tahun 2018 ini saja, masih ada dua orang yang meninggal dunia akibat virus rabies ini.

Baca: Rencana Pemadaman Listrik PLN Sintang, Ini Wilayah yang Terdampak

Baca: Tari Gemu Famire Pecahkan Rekor Muri di Halaman Makorem 121/Abw Sintang

“Dua orang yang meninggal ini kita kontak lngsung dengan dia. Meninggalnya mereka karena pada saat digigit tidak langsung menghubungi dinas kesehatan, sehingga tidak mendapat vaksin dari kita,” ujarnya, Kamis (5/9/2018) pagi.

Sementara dikatakannya, ada satu kasus lagi, namun itu belum juga bisa dipastikan rabies, karena tidak terlaporkan sehingga tidak ada kontak sama sekali dengan petugas kesehatan.

“Saya dengarnya dari orang kampung, bahwa di desa itu ada orang yang meninggal karena rabies. Tapi itu kita tidak kontak langsung, jadi kita tidak bisa mencatat,” jelasnya.

Berangkat dari peristiwa itulah, status KLB di Sintang ini belum dicabut. Namun ia juga mengatakan, terkadang memang lama untuk pencabutan status KLB itu, hingga butuh waktu lima tahun.

“Untuk mencabut status KLB ini, biasanya selama lima tahun tidak ada lagi kasus rabies. Bali saja sampai sekarang masih status KLB juga,” ungkapnya.

Tapi kalau untuk vaksin rabies, ditegaskannya bahwa itu tidak perlu dikhawatirkan lagi. Karena stok yang ada cukup banyak.

“Kemarin kita baru dapat kiriman dari provinsi 100 dan pusat 200. Jadi sekarang vaksin ini tidak sulit kita dapatkan. Kita minta pasti akan dikirim,” terangnya.

Ia juga mengimbau, kalau terjadi gigitan hewan, jangan sampai hewan tersebut dibunuh, tapi ditangkap dan dikurungi, nanti dari dinas peternakan akan datang untuk melihat, apakah hewan itu menularkan virus rabies atau tidak.

“Dengan begitu kita juga tidak mubasir vaksin, karena selama ini kita banyak sekali mengunakan vaksin rabies,” jelasnya.

Sebab selama ini, dikatakannya setiap ada gigitan selalu korban diberi vaksin, hal itu karena hewan tersebut belum sempat diperiksa tapi sudah dibunuh.

“Kalau kita periksa dulu, kita bisa tahu, apakah tertular atau tidak. Kalau tidak tertular, tak perlu kita vaksin korban yang tergigit,” jelasnya.

Penulis: Wahidin
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved