Petugas Medis Tegaskan Pelaksanaan Imunisasi MR Sesuai SOP

“Demamnya bisa ringan atau sedang atau berat. Tapi tergantung antibodinya. Sebab, tidak semua anak terkena reaksi demam,” imbuhnya.

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIZKY PRABOWO RAHINO
Bidan Pelaksana Puskesmas Alianyang, Eqka Hartikasih saat diwawancarai Tribun Pontianak di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SD Bamawai Pontianak, Jalan KH Ahmad Dahlan, Sungai Bangkong, Kota Pontianak, Senin (3/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Bidan Pelaksana Puskesmas Alianyang, Eqka Hartikasih menegaskan bahwa setiap petugas medis pelaksana imunisasi Measles Rubella (MR) sudah terlatih serta paham mekanisme sesuai Standar Operasional dan Prosedur (SOP).

“Untuk prosedurnya kita ada SOP. Ketika turun di lapangan sudah lengkap. Kewenangan sebagai pelaksana juga ada. Ini untuk antisipasi jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya saat diwawancarai Tribun Pontianak di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SD Bamawai Pontianak, Jalan KH Ahmad Dahlan, Sungai Bangkong, Kota Pontianak, Senin (3/9/2018).

Baca: Siswa dan Siswi SD Bamawai Pontianak  Suntik Imunisasi MR

Baca: Diskes Kayong Utara: Belum Ada Warga Terjangkit Hepatitis A

Sasaran imunisasi MR, kata dia, adalah anak-anak dan remaja usia 9 bulan-15 tahun. Sebelum penyuntikan,  anak-anak akan menjalani pemeriksaan kesehatan atau screening ulang. Jika kondisi anak sehat maka boleh disuntik.

“Yang boleh disuntik itu harus betul-betul tidak boleh dalam kondisi demam atau mengidap penyakit penyerta lainnya yang mengharuskan minum obat seperti diare atau asma. Anak-anak yang alergi telur atau antibiotik juga tidak boleh disuntik. Kalau dari pihak keluarga ada alergi, maka anak saat disuntik reaksinya juga alergi,” jelasnya.

Eka menimpali usai disuntik imunisasi MR, anak-anak lantas diarahkan ke ruang observasi. Observasi dilakukan selama kurang lebih 30 menit guna mengetahui apakah ada reaksi mencurigakan/shock anaphylaktik.

“Ketika tidak ada efek apa-apa maka diperbolehkan pulang. Jika ada shock anaphylaktik, maka penanganan sesuai SOP,” terangnya.

Ia menambahkan reaksi setelah imunisasi MR berbeda-beda setiap anak. Biasanya, demam akan terjadi pada dua minggu setelah imunisasi. Tingkatan demam menyesuaikan kekuatan antibodi masing-masing anak.

“Demamnya bisa ringan atau sedang atau berat. Tapi tergantung antibodinya. Sebab, tidak semua anak terkena reaksi demam,” imbuhnya.

Imunisasi MR merupakan cara terbaik pencegahan penyakit campak dan rubella yang sangat berbahaya. Pasalnya, virus campak dan rubella bisa mengakibatkan kelainan dan gangguan kesehatan diantaranya penyakit jantung dan penyakit serius lainnya.

“Imunisasi yang kita berikan untuk kekebalan anak-anak ini juga bertujuan mengantisipasi infeksi ke ibu hamil. Kalau ibu hamil sampai terkena virus campak dan rubella. Maka, tumbuh kembang bayi tidak bagus dan bisa alami kecacatan,” paparnya.

Eka tidak menampik hingga kini masih dijumpai kasus orangtua yang masih ragu mengimunisasi anak-anaknya. Ia berharap orangtua membawa anak-anak ke tenaga kesehatan untuk diimunisasi.

“Imunisasi ini bukan hanya sebagai tameng bagi ibu-ibu hamil. Imunisasi juga untuk kekebalan anak-anak usia 9 bulan 15 sampai  tahun,” pungkasnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved