Pertama Syuting Jadi Moment Paling Berkesan, Nazilajan: Rasa Berdebar Sekaligus Happy 

yang menjadi kendala untuk dapat masuk ke kancah Nasional adalah soal logat "budak Pontianak" yang begitu kental dengan logat Melayu.

Pertama Syuting Jadi Moment Paling Berkesan, Nazilajan: Rasa Berdebar Sekaligus Happy 
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Nazilajan. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Pertama kali syuting di sitkom berjudul "Sepanjang Hari" pada awal 2015, Nazilajan mengaku sempat merasa berdebar, namun setelah dijalani menjadi santai dan happy.

Dan tentu saja, pengalaman pertamanya itu menjadi moment syuting paling berkesan baginya, hingga sekarang sudah terlibat dalam berbagai produksi komedi situasi (sitkom) dan berbagai film pendek lainnya.

Dan tak butuh waktu lama, bagi ibu dua orang anak itu untuk menguasai kegugupan saat berada di depan kamera.

Baca: Dinas Kesehatan Singkawang Sebut Kasus Hepatitis A Tersebar di Beberapa Wilayah

"Pas sebelum take pertama, sebisa mungkin jangan dinampakkan kalo gugup, setelah itu biasanya sudah mulai terbiasa, penyesuaan itu gak terlalu lama kok," katanya saat berbagai cara agar cepat menghilangkan rasa gugup di depan kamera.

Tidak saja soal merasa gugup di depan kamera, yang biasanya menjadi tantangan saat syuting adalah menghafalkan naskah dialog.

Beruntung, bagi Nazila ia tak begitu kesulitan untuk menghafal dialog, "asalkan pandai improve" katanya.

Dan tak lupa juga latihan, terus berlatih dan belajar dengan teman-teman yang berpengalaman, misalnya anak-anak teater yang paham betul soal dialog maupun mimik wajah.

Baca: Ikut Ajakan Teman Syuting Sitkom, Nazijan Jadi Ketagihan

Meskipun berbagai peran dan karakter, sudah pernah diperankan oleh perempuan yang ngefans pada sosok Fitri Tropika ini, namun berperan menjadi cewek jahil atau "degel" yang saat ini belum kesampaian dan jadi harapan bagi Nazila.

Nazilajan.
Nazilajan. 

Karena menurutnya, selama ini ia mendapat peran yang cenderung baik dan kalem, sehingga ia mulai ingin keluar dari peran "diri sendiri" dan menjadi sosok yang benar-benar berbeda dari dirinya dan kesehariannya.

Sebagai penggiat seni kreatif di bidang perfileman, menurut Nazila anak muda di Pontianak sangat kreatif dan punya kualitas yang tidak kalah dari anak-anak muda lainnya di Indonesia.

Baca: Dunia Hiburan India Berduka, Perempuan Paling Terkenal di Tollywood Meninggal

Hanya saja, yang menjadi kendala untuk dapat masuk ke kancah Nasional adalah soal logat "budak Pontianak" yang begitu kental dengan logat Melayu.

Jadi tantangannya ada dua, bukan saja harus fokus di depan kamera, tapi juga fokus pada kalimat yang diucapkan, agar tidak terbawa ucapan dengan logat Melayu dan itu butuh konsentrasi tinggi juga butuh waktu lama untuk berlatih.

Tak hanya logat, yang menjadi kendala juga bagi kawan-kawan penggiat seni kreatif yang satu ini adalah soal kontrak dan ketepatan waktu (on time), yang masih jauh dibanding industri kreatif di Jakarta, yang menjadi pusatnya.

Penulis: Rizki Fadriani
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved