Breaking News:

Sikapi Pernyataan BNPB, Aliansi Masyarakat Dayak Kalbar Gelar Aksi Damai

Di atas tangga lantai dasar Gedung DPRD Kalbar, terlihat unsur pimpinan DPRD dan jajaran mendengarkan aspirasi yang dilontarkan.

Penulis: Rizky Prabowo Rahino | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIZKY PRABOWO RAHINO
Suasana aksi damai Aliansi Masyarakat Dayak Kalimantan Barat gelar aksi damai pernyataan sikap di Gedung DPRD Kalbar, Kamis (30/8/2018) pukul 10:30 WIB. Aksi ini menyusul atas tudingan Kepala Pusat data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Negoro yang menyebut tradisi gawai serentak menambah jumlah hotspot di Kalbar. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Lebih dari 60 orang yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Dayak Kalimantan Barat gelar aksi damai dan pernyataan sikap di Gedung DPRD Kalbar, Kamis (30/8/2018) pukul 10:30 WIB.

Aksi ini menyusul atas tudingan Kepala Pusat data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  Sutopo Purwo Nugroho yang menyebut tradisi gawai serentak menambah jumlah hotspot di Kalbar.

Baca: Gara-gara Pernyataan Ini, Laskar Bangkule Rajakng Desak Hukum Adat BNPB

Baca: FPR Kalbar Kecam Pernyataan BNPB Sebut Pembukaan Lahan Masyarakat Adat Penyebab Kabut Asap

Saat menyampaikan aksi damai, Aliansi Masyarakat Dayak Kalimantan Barat didampingi oleh Sekretaris Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar Jakius Sinyor dan pengurus DAD lainnya.

Di atas tangga lantai dasar Gedung DPRD Kalbar, terlihat unsur pimpinan DPRD dan jajaran mendengarkan aspirasi yang dilontarkan.

Di depan anggota-anggota legislatif itu, terlihat dijaga ketat oleh polisi laki-laki (Polki) dan polisi wanita (Polwan). Tidak hanya unsur kepolisian, personel TNI juga terlihat berjaga mengawasi jalannya aksi.

Sekretaris MADN Kalbar, Yakobus Kumis menerangkan semua yang hadir saat aksi juga mewakili keresahan Dayak se-Indonesia selama ini. Mereka ingin menyampaikan somasi, teguran hukum maupun pernyataan sikap dari masyarakat Dayak terhadap pernyataan Sutopo yang dinilai menyinggung perasaan mereka.

"Sutopo yang memberikan pernyataan itu menurut kami sangat menyakitkan karena menyangkut harkat, martabat dan nama baik masyarakat Dayak. Pernyataan Sutopo terkait gawai serentak memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas ini tidak bisa diterima karena masyarakat adat dengan kearifan lokalnya sejak dahulu menjalankan tradisi berladang," ungkapnya.

Yakobus Kumis menegaskan masyarakat adat Dayak bukan penyebab kabut asap. Dayak memiliki kearifan lokal dengan cara membakar ladang. Siapa yang menyebabkan kebakaran asap sebenarnya harus ditelusuri.

"Baik Sutopo, Polda, TNI, Polri, BNPB , BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup, ayo ikut kami untuk melihat bagaimana masyarakat adat Dayak bakar lahan. Dayak bukan asal membakar lahan. Tapi, membakar lahan dengan kearifan lokal," terangnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved