Terkait Pemberitaan Gawai Serentak Picu Karhutla, Aman Kalbar Somasi Kepala BNPB Nasional

Kedua, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat adat di Kalbar atas pemberitaan yang dikeluarkan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / ALFONS PARDOSI
Glorio Sanen SH memegang surat somasi yang akan dilayangkan kepada Kepala BNPB Nasional didampinggi satu diantara petani berladang di Landak pada Minggu (26/8/2018).  

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Alfon Pardosi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Pengurus Wilayah (PW) Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalbar memberikan Somasi kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Becana (BNPB) Nasional. 

Somasi yang dilakukan oleh AMAN Kalbar tersebut, dilayangkan berdasarkan surat nomor 101/Somasi/AMAN/KB/VIII/2018 tertanggal 25 Agustus 2018.

"Jadi kami mensomasi BNPB berdasarkan pemberitaan yang dikeluarkan oleh https://www.cnnindonesia.com dengan Judul Tradisi ‘Gawai Serentak’ Malah Picu Kebakaran Hutan di Kalbar," ujar Advokasi Biro Hukum AMAN Kalbar Glorio Sanen SH di kantornya di Ngabang pada Minggu (26/8/2018).

Baca: Cipta Kondisi, Polsek Pontianak Timur Gelar Patroli Blue Light di Malam Akhir Pekan

Berikut isi Somasi yang dilayangkan oleh PW AMAN Kalbar. 

1. Bahwa Gawai bagi Masyarakat Adat di Kalbar adalah tradisi syukuran setelah Panen yang mana Jadwal Gawai disesuaikan dengan Kalender Berladang Masyarakat Adat.

2. Berladang adalah sistem Pertanian  Masyarakat Adat sejak jauh sebelum kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu 17 Agustus 1945 yang dilaksanakan di Wilayah Bukit atau Gunung (Bukan Kawasan Gambut).

Baca: Deklarasi #2019GantiPresiden Tak Kantongi Izin, Ini Penuturan Kurniawan

3. Bahwa Berladang tidak menyebabkan kebakaran lahan secara masif dan berladang juga menggunakan sejumlah cara saat membakar lahan untuk menghindari terjadinya kebakaran, peristiwa kebakaran secara besar-besaran justru baru terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1997 karena di saat yang bersamaan ada banyak perusahaan-perusahaan besar masuk.

4. Berdasarkan Pasal 69 Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009  tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup  bahwa Masyarakat Adat dibolehkan melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar sesuai dengan kearifan lokal dengan syarat melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 (Dua) hektar per Kepala Keluarga untuk ditanami jenis varietas local dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.

5. Bahwa pemberitaan dengan Judul Tradisi ‘Gawai Serentak’ Malah Picu Kebakaran Hutan di Kalbar telah menyakiti hati Masyarakat Adat karena memberikan kesan Bahwa Masyarakat Adat lah penyebab utama dari Bencana Kabut Asap di Kalimantan Barat.

"Berdasarkan hal-hal tersebut, maka PW AMAN Kalbar memberikan peringatan kepada BNPB untuk, pertama, melakukan Klarifikasi atas Pemberitaan dengan Judul Tradisi ‘Gawai Serentak’ Malah Picu Kebakaran Hutan di Kalbar, selambat lambatnya tujuh hari sejak surat ini diterima," terangnya.

Baca: 23 Bacaleg Diduga Palsukan SKBS, KPU Tak Lagi Terima Perbaikan Berkas

"Kedua, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat adat di Kalbar atas pemberitaan yang dikeluarkan oleh https://www.cnnindonesia.com dengan Judul Tradisi ‘Gawai Serentak’ Malah Picu Kebakaran Hutan di Kalbar," bebernya. 

Baik melalui media massa cetak (Printed Media) Nasional, selambat lambatnya tujuh hari sejak surat ini diterima.

"Bahwa apabila BNPB tidak melaksanakan tuntutan sebagaimana telah diuraikan di atas dalam jangka waktu sebagaimana telah diuraikan diatas, maka PW AMAN Kalbar akan menempuh dan mempergunakan semua jalur hukum yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut," tegasnya.

Penulis: Alfon Pardosi
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved