Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Kalbar Meningkat, Ini Imbauan Pemerintah

Ia memaparkan 14 orang meninggal itu antara lain 8 kasus di Kabupaten Landak, 3 kasus di Kabupaten Sanggau dan 3 kasus di Kabupaten Sintang.

Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Kalbar Meningkat, Ini Imbauan Pemerintah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Warga menunjukkan bekas gigitan anjing pembawa rabies belum lama ini. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat meminta masyarakat laporkan kasus-kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang terjadi di wilayah masing-masing.

Hal ini begitu urgen agar bisa segera diambil langkah tindak lanjut terhadap potensi-potensi yang bisa ditimbulkan lantaran tergigit HPR.

“Lapor ke Puskesmas ketika ada kasus masyarakat yang digigit Hewan Penular Rabies (HPR) seperti anjing. Nanti, petugas medis di Puskesmas langsung memberikan VAR (Vaksinasi Anti Rabies_red),” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat Abdul Manaf, Minggu (26/8/2018).

Baca: Tim SAR Gabungan Cari Bocah Tenggelam di Sungai Landak Pontianak

Abdul Manaf mengingatkan masyarakat bahwa selain bagian dari pengobatan, vaksinasi menjadi satu langkah utama pencegahan korban gigitan anjing terhadap risiko rabies. Berdasarkan data Per 24 Agustus 2018, kasus gigitan anjing seluruh wilayah Kalbar meningkat dan  telah mencapai sekitar 2.112 orang.

“Dari kasus-kasus gigitan anjing itu, 14 orang meninggal karena positif rabies,” katanya.

Ia memaparkan 14 orang meninggal itu antara lain 8 kasus di Kabupaten Landak, 3 kasus di Kabupaten Sanggau dan 3 kasus di Kabupaten Sintang.

“Kasus terakhir korban meninggal positif rabies terjadi di Kabupaten Sintang, tepatnya di Kecamatan Ketungau Tengah. Kasus-kasus yang telah terjadi ini tentunya jadi atensi untuk bersama-sama mengatasinya,” terangnya.

Pihaknya terus berupaya meminimalisir terjadinya kasus rabies di Kalbar melalui vaksinasi HPR, terutama HPR yang dipelihara oleh masyarakat. Kesadaran vaksinasi HPR terus dibangun agar semua masyarakat tergerak dan punya komitmen bersama dalam mencegah rabies.

“Saya sudah mengimbau instansi terkait di kabupaten dan kota untuk terus bergerak dan berupaya maksimal menangani serta mengendalikan kasus-kasus gigitan HPR,” imbuhnya.

Ia menambahkan guna mengefektifkan vaksinasi, pihaknya telah melatih sekitar 200 orang yang merupakan personel Bhabinkamtibmas Kepolisian Sektor (Polsek) dan pemuda/pemudi desa sebagai tenaga vaksinator.

Nantinya, mereka membantu upaya vaksinasi kepada HPR di desa-desa. Kebijakan itu diharapkan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang jauh, khususnya desa-desa pedalaman.

“Tentunya kami terbantu dengan hal ini. Sebagai solusi mengatasi problem keterbatasan tenaga vaksinator. Sebab, vaksinator kami banyak yang pensiun. Mereka-mereka (Bhabinkamtibmas dan pemuda/pemudi desa_red) sudah dibekali skill yang memadai untuk vaksinasi. Vaksinasi harus terus berjalan,” jelasnya.

Pihaknya juga mengambil strategi jemput bola yakni door to door atau dari rumah ke rumah untuk vaksinasi. Hal ini berkaca dari masih dijumpai kesadaran masyarakat yang rendah untuk memvaksinasi HPR yang dipelihara.

“Kami berharap masyarakat agar punya kesadaran tinggi untuk memvaksinasi HPR khususnya anjing. Suksesnya pengendalian rabies ditentukan oleh capaian vaksinasi HPR,” tukasnya.

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved