dr Nursyam Ibrahim : Kualitas Udara Buruk Bisa Mengganggu Fungsi Pada Paru-paru

Menurutnya, salah satu dampak jangka panjangnya adalah berbagai penyakit saluran pernapasan akan terjadi.

dr Nursyam Ibrahim : Kualitas Udara Buruk Bisa Mengganggu Fungsi Pada Paru-paru
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Foto kondisi udara di langit Kota Sambas, dari pantauan Tribun Pontianak di atas jembatan Sabok, Kabupaten Sambas, Senin (20/08/2018). Pantauan pukul 09.30 Wib.   

Laporan Wartawan Tribun Pontianak M Wawan Gunawan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS,-  Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak dr Nursyam Ibrahim mengatakan apabila kualitas udara yang sudah melewati ambang batas yang dibolehkan maka akan membuat gangguan pada fungsi paru-paru.

Menurutnya, salah satu dampak jangka panjangnya adalah berbagai penyakit saluran pernapasan akan terjadi.

Salah satunya adalah ISPA, dan yang paling fatal adalah terjadinya gangguan konstruktif atau paru menahun.

Baca: Kabid P2P Dinkes : Ada Kencenderungan Kasus ISPA Meningkat

Baca: Gapki Kalbar Sebar 5.000 Masker Bagi Pengendara

Dimana akan terjadi sumbatan aliran udara ke paru-paru, dan itu akan lebih sakit dari pada asma. Sedangkan dampak jangka panjangnya adalah bisa juga terjadi kanker jangka panjang.

"Jika terus terjadi paparan pada paru-paru, maka akan bisa terjadi konstruktif atau paru menahun. Itu dampak jangka menengah, jangka panjang bisa terjadi mutasi gen di paru-paru dan akan terjadi kanker jangka panjang," ujarnya saat di hubungi Tribun, Kamis (23/08/2018).

Menurutnya, untuk menangani hal tersebut apabila memang sudah menyerang. Ia mengatakan harus ditangani khusus pada gangguan pernafasan.

Ia menambahkan, dampak jangka menengah dan jangka panjangnya belum bisa di lihat hari ini. Ia mencontohkan sama seperti perokok kalau terjadi penyakit paru konstruktif menahun.

Menurutnya, iritasi saluran nafas bagian atas akan berdampak luas pada fungsi paru dan saluran pernafasan jangka menengah. Sementara itu kalau terjadi peningkatan kanker paru, itu belum bisa dilakukan pengkajian lebih jauh.

Untuk itu, yang paling penting perlu pencegahan untuk jangka pendek. Karena ISPA pada anak bayi dibawah tiga tahun itu bisa menyebabkan kematian, dan untuk lansia yang diatas 65 tahun karena paru-parunya mengalami penuaan.

Sehingga kemampuan dan daya tahan terhadap iritasi sudah tidak setajam yang berusia muda.

"Itulah sebab, kalau tidak perlu bayi dan batita (Bayi tiga tahun) jangan banyak diluar hingga terpapar asap. Kalaupun didalam rumah, gunakan masker yang dibasahi atau lembab. Agar partikel menempel di pori-pori masker," tambahnya.

Oleh karenanya, apabila menggunakan masker yang sudah dilembabkan. Maka partikel-partikel jahat yang disebabkan oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bisa menempel sepenuhnya di masker. 

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved