Culvis Media Gathering - Sejarah dan Syariat Dibalik Gerbang Kudus Kota Kretek
Ia mengatakan, Gerbang Kudus Kota Kretek dibangun oleh PT Djarum dan diberikan ke Pemda Kudus dengan total Rp. 16 Miliar.
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kudus sebagai Kota Kretek ternyata banyak menyimpan cerita yang banyak belum diketahui. Satu diantaranya ialah cerita dibalik Gerbang Kudus Kota Kretek.
Gerbang Kudus Kota Kretek ialah gerbang perbatasan antara Kabupaten Demak, Kudus dan Demak dipisahkan oleh Sungai Tanggul Angin.
Baca: Culvis Media Gathering - Dari Candi Borobudur Hingga Basah-Basahan di Sungai Elo
Baca: Culvis Media Gathering - Andong, Pengamen dan Geliat Ekonomi Malioboro
Baca: Culvis Media Gathering - Explore Candi Prambanan dan Tebing Breksi
Berdasarkan penuturan satu diantara karyawan PT. Djarum, Teo, Kudus dan Jepara terpisah, dipisahkan sungai atau lautan besar bernama Tanggul Angin karena dulu Jepara terkenal dengan Kerajaan Kalingga.
Ditahun 2014 Kudus sempat lumpuh total karena banjir yang ada di Tanggul Angin dengan ketinggian 4-5 meter, walaupun memang sekarang sudah ditinggikan.
Ia mengatakan, Gerbang Kudus Kota Kretek dibangun oleh PT Djarum dan diberikan ke Pemda Kudus dengan total Rp. 16 Miliar.
"Gerbang Kudus Kota Kretek ada filosofinya, mungkin sekilas dipandang seperti sayap kupu-kupu, namun sebenarnya berarti lembaran daun tembakau," ujarnya.
Diterangkannya, total ruas tulang daunnya ada 59, dan 59 ada artinya, 5 yakni rukun Islam, sedangkan 9 adalah nama-nama dari Wali Songo.
"5 rukun Islam, Syahdat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji," ujarnya.
Kudus selain disebut Kota Kretek juga disebut sebagai Kudus Kota Santri.
Kebetulan, kata dia, di Kudus juga ada dua tokoh Wali yakni Kyai Kanjeng Sunan Kudus, yang merupakan sunan paling berpengaruh di Kota Kudus, dimana Syeh Ja'far Shodiq sering mengajarkan bagaimana menghormati agama lain.
Hal ini tercermin hewan sapi tidak boleh disembelih karena jauh sebelum ada agama Islam, ada agama Hindu-Budha di Kudus.
Termasuk setelah Sunan Kudus, penyebar agama Islam ada Laksmana Ceng Ho.
Di Kudus juga ada Kyai Kanjeng Raden Umar Said atau lebih dikenal Sunan Muria.
Kudus Kota Industri juga dapat, dan juga disebut sebagai Kota Ulama serta Santri.
Selain dari industri rokok, di Kudus juga merupakan tempat industri Elektronik yakni Hartono Istana Teknologi atau dikenal Polytron
Selain itu, ada juga pabrik kertas yakni PT. Pura Barutama yang juga mencetak uang rupiah, termasuk sim card.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kretek_20180723_122846.jpg)